Sabtu, 01 April 2017

Perkembangan Konsep Diri (Karakteristik Konsep Diri Remaja (SMP-SMA))

Karakteristik Konsep Diri Remaja (SMP-SMA)
Ketika anak-anak memasuki masa remaja, konsep diri mereka mengalami perkembangan yang sangat kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri mereka. Santrock 91998) menyebutkan sejumlah karakteristik perkembangan konsep diri pada remaja yaitu:
1.)    Abstract and Idealistic. Pada masa remaja, anak-anak cenderung lebih mungkin membuat gambaran tentang diri mereka dengan kata-kata yang abstrak dan idealistic. Gambaran abstrak tentang diri seorang anak dapat dilihat dari pernyataan anak usia 14 tahun berikut: “Saya seorang manusia. Saya tidak dapat memutuskan sesuaatu. Saya tidak tahu siapa diri Saya.” Sedangkan deskripsi idealistic dari konsep diri remaja dapat dilihat dari pernyataan: “Saya orang yang sensitive. Saya sangat peduli terhadap perasaan orang lain. Saya rasa, Saya cukup cantik.” Walaupun tidak semua remaja menggambarkan diri mereka dengan abstrak dan idealistik, namun sebagian remaja membedakan anatara diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang diidamkan.
2.)    Differentiated. Konsep diri remaja telah lebih terdiferensiasi disbanding anak-anak. Pada tahap ini remaja lebih mungkin untuk menggambarkan dirinya sendiri dengan konteks atau situasi yang semakin terdiferensiasi. Misalnya remaja berusaha menggambarkan dirinya dalam menggunakan sejumlah karakteristik dalam hubungannya dengan keluarga, atau dalam hubungannya dengan teman sebaya, dan bahkan dalam hubungannya yang romantis dengan lawan jenis. Intinya adalah dibandingkan dengan anak-anak remaja telah dapat memahami bahwa dirinya memiliki ciri yang berbeda-beda (Differentiated selves), sesuai dengan peran atau konteks tertentu.
3.)    Contradictions Within the Self. Setelah mendiferensiasikan dirinya, maka akan muncul kontadiksi. Mc Devitt dan Ormrod (2002) menulis:

As their words broaden in the teenage years, young people have a greater variety of social experiences and so are apt to get conflicting messages about their characteristic. The Result is that their self-concepts may include contradictory views of themselves.

Istilah yang digunakan untuk menggambarkan diri mereka secara kontradiktif dapat berupa misalkan jelek dan menarik, mudah bosan dan ingin tau, peduli dan tidak peduli, tertutup dan suka bersenang- senang.
4.)  The Fluctiating Self. Sifat yang kontradiktif dalam diri remaja pada gilirannya yang memunculkan fluktuasi diri dalam berbagai situasi dan lintas waktu yang tidak mengejutkan. Seorang peneliti menjelaskan sifat fluktuasi dalam diri remaja tersebut disebut dengan metafora “The Barometic” (diri barometik). Maksudnya adalah diri seorang remaja akan terus memiliki ciri ketidakstabilan hingga masa dimana remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang lebih utuh. Tetapi biasanya tidk tejadi hingga masa remaja akhir bahkan hingga masa dewasa awal.
5.) Real and Ideal, True and False Selves. Kemudian munculah kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri idel mereka disamping diri yang sebenarnya, tetapi hal tersebut masih membingungkan remaja. Kemampuan untuk menyadari adanya perbedaan anatara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan adanya perkembangan kognitif pada diri remaja. Carl Rogen yakin bahwa adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan ketidak mampuan remaja untuk mnyesuaikan diri. Penelitian yang dilakukan Strachen dan Jones (1982) menunjukan bahwa pada pertengahan masa remaja terjadi diskrepasi atau ketidak cocokan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan yang lebih besar antara diri yang nyata dengan diri yang ideal dibandingkan dengan pada awal dan akhir masa remaja.
Dari sudut pandang yang berbeda, ahli lain melihat adanya suatu aspek penting dari diri idel atau diri yang diimajinasikan, yaitu apa yang disebut dengan Possible-self . Berdasarkan pandangan ini, adanya suatu yang diharapkan dan yang ditakutkan adalah suatu fenomena yang sehat secara psikologis. Seperti ketakutan akan tidak diterima di universitas idaman, atau keyakinan dapat sukses di masa depan.
Kemudian muncul pertanyaan “Dapatkah remaja membedakan antara diri mereka yang benar (True Self) dengan diri mereka yang palsu (False Self)?”
Remaja cenderung menunjukan diri yang palsu ketika berada pada lingkungan teman- teman sekelasnya. Namun, ketika berada bersama teman-teman terdekatnya, kecil kemungkinan remaja menunjukan dirinya yang palsu. Diri yang palsu ditunjukan oleh ramaja agar membuat orang lain mengaguminya. Karena remaja cenderung ingin terlihat hebat, dan menjadi pusat perhatian.
6.) Social Comparison. Dibandingkan dengan anak-anak remaja lebih senang menggunakan perbandingan untuk mengevaluasi diri mereka. Namun, kesedian remaja untuk mengevaluasi diri sendiri akan menurun pada masa ini, karena menurut mereka perbandingan sosial itu tidak diinginkan.
7.) Self-Conscious. Karakteristik lain pada remaja yaitu bahwa remaja lebih sadar akan dirinya disbanding dengan anak-anak. Remaja menjadi lebih introspektif, yang mana hal ini merupakan bagian dari kesadaran diri mereka dan bagian dari eksplorasi diri. Namun, introspeksi diri tidak selalu terjadi pada diri remaja yang ada didalam lingkungan isolasi sosial. Terkadang remaja meminta dukungan dan penjelasan dari teman-temannya, memperoleh opini teman-temannya mengenai definisi diri yang baru muncul.
8.)  Self -Protective. Self-Protective merupakan mekanisme untuk mempertahankan diri. Dalam upaya melindungi dirinya, remaja cenderung menolak adanya karakteristik negatif dalam diri mereka. Mereka cenderung berusaha menunjukan diri yang memiliki sifat periang, cantik, menarik, dan suka bersenang-senang. Dibandingkan sifat jelek, pemurung, penyendiri, dan pendiam. Hal ini merupakan kecenderungan remaja untuk menggambarkan dirinya secara idealistik.
9.)    Unconscious. Unconscious merupakan karateristik yang tdai disadari. Artinya, remaja yang lebih tua yakin adanya aspek-aspek tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada di luar kesadaran atau kontrol mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih mudah.
10.) Self-Integration. Pada masa remaja akhir konsep diri remaja akan lebih terintegrasi, dimana bagian yang berbeda-beda dari diri secara sistematik menjadi satu kesatuan. Maksudnya adalah remaja yang lebih tua lebih mampu mendeteksi adanya ketidakkonsistenan dalam gambaran diri mereka. Pada saat yang sama, ketika remaja menghadapi tekanan untuk membagi-bagi diri menjadi sejumlah peran, munculah pemikiran formal operasional yang mendorong proses integrase dan perkembangan dari suatu teori diri yang konsisten dan koheren.

            McDevitt dan Ormrod (2002) mencatat dua fenomena yang menonjol dalam perkembangan konsep diri pada masa remaja awal (10-14 tahun). Pertama, kabanyakan anak remaja remaja awal percaya bahwa dalam suatu situasi sosial, dirinya menjadi pusat perhatian dari orang lain.

            Aspek egosentris dari konsep diri remaja disebut dengan istilah Imaginary Audience, yaitu keyakinan remaja bahwa orang lain memiliki perhatian yang sangat besar terhadap dirinya. Gejala Imaginary Audience ini mencangkup berbagai perilaku untuk mendapat perhatian: keinginan agar kehadirannya diperhatikan, disadari oleh orang lain dan menjadi pusat perhatian. Misalnya anak gadis dua SMP selalu memperhatikan penampilannya karena merasa dirinya selalu diperhatikan oelh orang lain, atau bahkan karena ingin menjadi pusat perhatian. Kedua, fenomena penting lainnya dalam perkambangan konsep diri remaja awal adalah Personal Fable, yaitu perasaan akan adanya keunikan pribadi yang dimilikinya. Anak-anak awal remaja percaya bahwa diri mereka berbeda dengan orang lain. Mereka sering berpikir bahwa orang-orang di sekitar mereka tidak pernah merasakan seperti yang mereka alami. 

DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Riyadi, Muchlisin. Pengertian dan Komponen Konsep Diri. http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-komponen-konsep-diri.html. Diakses pada 01 April 2017, pukul 03.16. 

Perkembangan Konsep Diri (Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah)

Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah
            Pada usia sekolah, seiring pertumbuhan fisik, kognitif, dan kemampuan sosialnya. Anak usia sekolah dasar juga mengalami perubahan dalam pandangan terhadap dirinya sendiri. Mc Devit dan Ormrod, 2002 memberikan gambaran tentang perubahan konsep diri pada diri anak sekolah dasar (usia 6-10 tahun):
Research indicates that childern’s self- concepts sometimes drop soon after they they begin elementary school, probably as result of the many new academic and social challenges that school presents. Elementary school gives children many occasions to compare their performance with that of peers, and so their self-assessments gradually become more realistic. Yet this comparative approach inevitably creates “winners” and “losers”. Children who routinely find themselves at the bottom of heap must do some fancy footwork to keep their sel-esteem intact. Often, they focus on performance areas in which they excel (e.g. sports, social relationships, or hobbies) and discount areas that give them trouble (e.g. “Reading is dumb”). Perhaps because they have so many domains and experience to consider as they look for strengths in their own performance, most children maintain fairly high and stable self-esteem during the elementary school.
            Kutipan diatas menggambarkan tentang perubahan-perubahan dalam konsep diri anak usia sekolah dasar. Pada awal-wal masuk sekolah dasar, terjadi penurunan dalam konsep diri anak. Hal ini disebabkan oleh tuntutan baru dalam akademik dan perubahan sosial yang muncul di sekolah. Sekolah dasar banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk membandingkan dirinya dengan temannya, sehingga penilain dirinya secara gradual menjadi lebih realistik.
            Pada usia sekolah dasar anak- anak sering memfokuskan perhatiannya pada bidang-bidang dimana mereka unggul (seperti: olahraga, hubungan sosial, ataupun hobi), dan kurang perhatiannya kepada bidang-bidang yang memberikan kesukaran baginya. Kebanyakan anak berusaha untuk mempertahankan harga diri mereka selama tahun-tahun sekolah dasar.
            Menurut santrock (1995), perubahan- perubahan dalam konsep diri anak selama tahun- tahun sekolah dasar dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tigas karakteristik konsep diri, yaitu:
1.)    Karakter internal
            Dalam karakter internal, anak lebih cenderung mendefinisikan dirinya melalui keadaan-keadaan dalam yang subjektif daripada melalui keadaan-keadaan luar atau fisik. Penelitian F. Abound dan Skerry (1983), menemukan bahwa anak-anak usia kelad dua jauh lebih cenderung menyebutkan karakteristik psikologis (seperti preferensi atau sifat-sifat kepribadian) dalam mendefinisikan diri mereka dan kurang cenderung menyebutkan karakteristi fisik (seperti warna rambut, warna kulit, warna mata). Misalnya anak usia 8 tahun mendeskripsikan dirinya sebagai: “Aku seorang yang pintar dan terkenal.” Anak usia 10 tahun mendeskripsikan dirinya dengan: “Aku cukup lumayan tidak khawatir terus-menerus, Aku biasanya suka marah, tetapi sekarangs sudah lebih baik.”
2.)    Karakteristik Aspek Sosial
            Dalam usia sekolah dasar aspek sosial anak juga cenderung meningkat. Dalam suatu investigasi, anak-anak sekolah dasar seringkali menjadikan kelompok-kelompok sosial sebagai acuan dalam deskripsi diri mereka (Livesly & Bromley, 1983). Misalnya seorang anak mengaku sebagai Pramuka perempuan, sebagai seorang Muslim, atau sebagai sepasang sahabat karib.
3.)    Karakteristik Perbandingan
            Pada tahap perkembangan ini, anak-anak cenderung membedakan diri mereka dari orang lain secara komparatif daripada secara absolut. Misalkan, anak-anak usia sekolah dasar tidak lagi berpikir tentang apa yang “Aku lakukan” atau yang “tidak Aku lakukan”, tetapi cenderung berpikir tentang “apa yang dapat aku lakukan” dibandingkan dengan “apa yang dapat dilakukan oleh orang lain.”
            Sejumlah ahli psikologi perkembangan percaya bahwa dalam perkembangan pemahaman diri, pengambilan perspektif (Perspective-taking) memainkan peranan yang penting. Robert Selman (dalam Santrock, 1995) percaya bahwa pengambilan perspektif melibatkan suatu rangkaian yang terdiri atas lima tahap, yang berlangsung dari usia 3 tahun hingga masa remaja. Dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tahap pengambilan perspektif
Usia
(tahun)
Deskripsi
Perspektif yang egosentris
3 – 6
Anak merasakan adanya perbedaan dengan orang lain, tetapi belum mampu membedakan antara perspektif sosial (pemikiran, perasaan )orang lain dan perspektif diri sendiri. Anak dapat menyabutkan perasaan orang lain, tetapi tidak melihat hubungan sebab dan akibat pemikiran dan tindakan sosial.
Pengambilan perspektif sosial internasional
6 – 8
Anak sadar bahwa orang lain memiliki suatu perspektif sosial yang didasarkan atas pemikiran orang itu, yang mungkin sama atau berbeda dengan pemikirannya. Tetapi anak cenderung berfokus pada perspektifnya sendiri dan bukan mengkoordinasikan sudut pandang.
Pengambilan keputusan diri reflektif
8 -10
Anak sadar bahwa setiap orang sadar akan perspektif orang lain dan bahwa kesadaran ini memengaruhi pandangan dirinya dan pandangan orang lain. Menempatkan diri sendiri di tempat orang lain merupakan suatu cara untuk menilai maksud, tujuan, dan tindakan orang lain. Anak dapat membentuk suatu mata rantai perspektif yang terkoordinasi, etapi tidak dapat mengabstraksikan proses-proses ini pada tingkat timbal balik secara serentak.  
Saling mengambil perspektif
10 -12
Anak remaja menyadari bahwa baik diri sendiri maupun orang lain dapat memandang satu sama lain secara timbal balik dan secara serentak sebaga subjek. Anak remaja dapat melangkah keluar dari kedua orang itu  dan memandang interaksi dari perspektif orang ketiga.
Pengambilan perspektif sistem sosial dan konvensional
12 – 15
Anak remaja menyadari pengambilan perspektif bersama tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sempurna. Konvensi sosial dilihat sebagai sesuatu yang penting karena dipahami oleh semua anggota kelompok, tanpa memandang posisi, peran, atau pengalaman mereka.


            Menurut sejumlah ahli lain, anak-anak usia 6 tahun mampu memahami perspektif orang lain. Peneliti lain mencatat bahwa seseorang yang berusia sama belumbisa diasosiasikan dengan masing-masing tingkat, sebab kemampuan anak dlam pengambilan peran mungkin berfluktuasi darisuatu waktu ke waktu lain (Maccoby, 1980). Demikian juga anak yang memahami perspektif orang- orang yang familiar dalam situasi yang familiar, mungkin kurang mampu dalam memahami orang atau situasi yang tidak familiar (Flapan, 1968). 

DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Riyadi, Muchlisin. Pengertian dan Komponen Konsep Diri. http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-komponen-konsep-diri.html. Diakses pada 01 April 2017, pukul 03.16.