Karakteristik Konsep Diri Remaja
(SMP-SMA)
Ketika
anak-anak memasuki masa remaja, konsep diri mereka mengalami perkembangan yang
sangat kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri mereka. Santrock
91998) menyebutkan sejumlah karakteristik perkembangan konsep diri pada remaja
yaitu:
1.) Abstract and Idealistic. Pada
masa remaja, anak-anak cenderung lebih mungkin membuat gambaran tentang diri mereka
dengan kata-kata yang abstrak dan idealistic. Gambaran abstrak tentang diri
seorang anak dapat dilihat dari pernyataan anak usia 14 tahun berikut: “Saya
seorang manusia. Saya tidak dapat memutuskan sesuaatu. Saya tidak tahu siapa
diri Saya.” Sedangkan deskripsi idealistic dari konsep diri remaja dapat
dilihat dari pernyataan: “Saya orang yang sensitive. Saya sangat peduli
terhadap perasaan orang lain. Saya rasa, Saya cukup cantik.” Walaupun tidak semua
remaja menggambarkan diri mereka dengan abstrak dan idealistik, namun sebagian
remaja membedakan anatara diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang
diidamkan.
2.) Differentiated.
Konsep diri remaja telah lebih terdiferensiasi disbanding anak-anak. Pada tahap
ini remaja lebih mungkin untuk menggambarkan dirinya sendiri dengan konteks
atau situasi yang semakin terdiferensiasi. Misalnya remaja berusaha
menggambarkan dirinya dalam menggunakan sejumlah karakteristik dalam
hubungannya dengan keluarga, atau dalam hubungannya dengan teman sebaya, dan
bahkan dalam hubungannya yang romantis dengan lawan jenis. Intinya adalah
dibandingkan dengan anak-anak remaja telah dapat memahami bahwa dirinya
memiliki ciri yang berbeda-beda (Differentiated
selves), sesuai dengan peran atau konteks tertentu.
3.) Contradictions Within the Self.
Setelah mendiferensiasikan dirinya, maka akan muncul kontadiksi. Mc Devitt dan
Ormrod (2002) menulis:
As their words broaden in
the teenage years, young people have a greater variety of social experiences
and so are apt to get conflicting messages about their characteristic. The
Result is that their self-concepts may include contradictory views of themselves.
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan diri mereka secara kontradiktif dapat berupa misalkan jelek dan menarik, mudah bosan dan ingin tau, peduli dan tidak peduli, tertutup dan suka bersenang- senang.
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan diri mereka secara kontradiktif dapat berupa misalkan jelek dan menarik, mudah bosan dan ingin tau, peduli dan tidak peduli, tertutup dan suka bersenang- senang.
4.) The Fluctiating Self. Sifat
yang kontradiktif dalam diri remaja pada gilirannya yang memunculkan fluktuasi
diri dalam berbagai situasi dan lintas waktu yang tidak mengejutkan. Seorang
peneliti menjelaskan sifat fluktuasi dalam diri remaja tersebut disebut dengan
metafora “The Barometic”
(diri barometik). Maksudnya adalah diri seorang remaja akan terus memiliki ciri
ketidakstabilan hingga masa dimana remaja berhasil membentuk teori mengenai
dirinya yang lebih utuh. Tetapi biasanya tidk tejadi hingga masa remaja akhir
bahkan hingga masa dewasa awal.
5.) Real and Ideal, True and False Selves.
Kemudian munculah kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri idel mereka disamping
diri yang sebenarnya, tetapi hal tersebut masih membingungkan remaja. Kemampuan
untuk menyadari adanya perbedaan anatara diri yang nyata dengan diri yang ideal
menunjukkan adanya perkembangan kognitif pada diri remaja. Carl Rogen yakin
bahwa adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang nyata dengan diri
yang ideal menunjukkan ketidak mampuan remaja untuk mnyesuaikan diri.
Penelitian yang dilakukan Strachen dan Jones (1982) menunjukan bahwa pada
pertengahan masa remaja terjadi diskrepasi atau ketidak cocokan antara apa yang
diharapkan dengan kenyataan yang lebih besar antara diri yang nyata dengan diri
yang ideal dibandingkan dengan pada awal dan akhir masa remaja.
Dari
sudut pandang yang berbeda, ahli lain melihat adanya suatu aspek penting dari
diri idel atau diri yang diimajinasikan, yaitu apa yang disebut dengan Possible-self
. Berdasarkan pandangan ini, adanya suatu yang diharapkan dan yang ditakutkan
adalah suatu fenomena yang sehat secara psikologis. Seperti ketakutan akan
tidak diterima di universitas idaman, atau keyakinan dapat sukses di masa
depan.
Kemudian
muncul pertanyaan “Dapatkah remaja membedakan antara diri mereka yang benar (True Self)
dengan diri mereka yang palsu (False
Self)?”
Remaja
cenderung menunjukan diri yang palsu ketika berada pada lingkungan teman- teman
sekelasnya. Namun, ketika berada bersama teman-teman terdekatnya, kecil
kemungkinan remaja menunjukan dirinya yang palsu. Diri yang palsu ditunjukan
oleh ramaja agar membuat orang lain mengaguminya. Karena remaja cenderung ingin
terlihat hebat, dan menjadi pusat perhatian.
6.) Social Comparison. Dibandingkan
dengan anak-anak remaja lebih senang menggunakan perbandingan untuk
mengevaluasi diri mereka. Namun, kesedian remaja untuk mengevaluasi diri sendiri
akan menurun pada masa ini, karena menurut mereka perbandingan sosial itu tidak
diinginkan.
7.) Self-Conscious.
Karakteristik lain pada remaja yaitu bahwa remaja lebih sadar akan dirinya disbanding
dengan anak-anak. Remaja menjadi lebih introspektif, yang mana hal ini
merupakan bagian dari kesadaran diri mereka dan bagian dari eksplorasi diri.
Namun, introspeksi diri tidak selalu terjadi pada diri remaja yang ada didalam
lingkungan isolasi sosial. Terkadang remaja meminta dukungan dan penjelasan
dari teman-temannya, memperoleh opini teman-temannya mengenai definisi diri
yang baru muncul.
8.) Self -Protective.
Self-Protective
merupakan mekanisme untuk mempertahankan diri. Dalam upaya melindungi dirinya,
remaja cenderung menolak adanya karakteristik negatif dalam diri mereka. Mereka
cenderung berusaha menunjukan diri yang memiliki sifat periang, cantik,
menarik, dan suka bersenang-senang. Dibandingkan sifat jelek, pemurung,
penyendiri, dan pendiam. Hal ini merupakan kecenderungan remaja untuk
menggambarkan dirinya secara idealistik.
9.) Unconscious.
Unconscious merupakan
karateristik yang tdai disadari. Artinya, remaja yang lebih tua yakin adanya
aspek-aspek tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada di luar
kesadaran atau kontrol mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih mudah.
10.) Self-Integration.
Pada masa remaja akhir konsep diri remaja akan
lebih terintegrasi, dimana bagian yang berbeda-beda dari diri secara sistematik
menjadi satu kesatuan. Maksudnya adalah remaja yang lebih tua lebih mampu
mendeteksi adanya ketidakkonsistenan dalam gambaran diri mereka. Pada saat yang
sama, ketika remaja menghadapi tekanan untuk membagi-bagi diri menjadi sejumlah
peran, munculah pemikiran formal operasional yang mendorong proses integrase dan
perkembangan dari suatu teori diri yang konsisten dan koheren.
McDevitt dan Ormrod (2002) mencatat
dua fenomena yang menonjol dalam perkembangan konsep diri pada masa remaja awal
(10-14 tahun). Pertama,
kabanyakan anak remaja remaja awal percaya bahwa
dalam suatu situasi sosial, dirinya menjadi pusat perhatian dari orang lain.
Aspek egosentris dari konsep diri
remaja disebut dengan istilah Imaginary
Audience, yaitu keyakinan remaja bahwa orang lain memiliki
perhatian yang sangat besar terhadap dirinya. Gejala Imaginary Audience
ini mencangkup berbagai perilaku untuk mendapat perhatian: keinginan agar
kehadirannya diperhatikan, disadari oleh orang lain dan menjadi pusat
perhatian. Misalnya anak gadis dua SMP selalu memperhatikan penampilannya
karena merasa dirinya selalu diperhatikan oelh orang lain, atau bahkan karena ingin
menjadi pusat perhatian. Kedua,
fenomena penting lainnya dalam perkambangan konsep diri remaja awal adalah Personal Fable,
yaitu perasaan akan adanya keunikan pribadi yang dimilikinya. Anak-anak awal
remaja percaya bahwa diri mereka berbeda dengan orang lain. Mereka sering
berpikir bahwa orang-orang di sekitar mereka tidak pernah merasakan seperti
yang mereka alami.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan
Peserta Didik. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Riyadi, Muchlisin. Pengertian dan Komponen
Konsep Diri. http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-komponen-konsep-diri.html.
Diakses pada 01 April 2017, pukul 03.16.