Rabu, 15 Februari 2017

Paulo Freire

Kehidupan Paulo Freire: 

    Paulo Freire (lahir di RecifeBrasil19 September 1921 –meninggal di São PauloBrasil2 Mei 1997 pada umur 75 tahun) adalah seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. 

    Kisah kehidupan Freire dimulai pada saat ia dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di RecifeBrasil. Namun ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas. Freire memulai pendidikannya di Universitas pada tahun 1943, tepatnya pada Universitas Recife dan mengambil jurusan hukum. Twtapi, walaupun Freire mengambil jurusan hukum, beliau tidak pernah benar- benar praktik dalam bidang tersebut. Ia justru mempelajari tentang filsafat dan psikologi bahasa dan menjadi guru di sekolah menengah dan mengajar bahasa portugis. 

Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikand an Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan. Dari sinilah lagkah Freire dalam bidang pendidikan dimulai. Beliau kemudian diangkat sebagai direktur dari departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife, dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah Brasil menyetujui dibentuknya ribuat lingkaran budaya di seluruh negeri.

Tentang Paulo Freire:

    Paulo Freire sangat berpengaruh dalam perkembangan Reflect. Pikiran dan visinya membantu kita untuk mengklarifikasi banyak pertanyaan yang rumit terkait dengan kehidupan, belajar dan pembebasan. Premis utama teori Freire adalah bahwa tidak ada pendidikan netral - dapat digunakan untuk domestikasi atau pembebasan. Filsafat pendidikan Freire adalah gagasan dari tindakan kolektif dan terus perjuangan pada bagian dari kaum tertindas untuk membebaskan diri dari segala bentuk dominasi. Tertindas adalah subyek aktif dalam perjuangan mereka sendiri.

    Freire mengkritik apa yang disebutnya "edukasi perbankan" di mana siswa belajar dengan cara menghafal dan dipandang sebagai kapal kosong untuk diisi dengan belajar. Ia menyerukan pendidikan yang membebaskan berdasarkan dialog antara guru dan peserta didik - proses pembelajaran yang dihormati orang sebagai subyek yang aktif dan kreatif. Daripada melihat pengajaran keaksaraan sebagai transfer teknis keterampilan, Freire berpendapat, "Peserta didik harus melihat kebutuhan untuk menulis kehidupan seseorang dan membaca realitas seseorang".

    Ada berbagai kritik dari Freire. Beberapa fokus pada keterbatasan tulisannya (misalnya kegagalan untuk menangani isu-isu gender dalam karyanya sebelumnya, atau bahwa pada saat ia muncul untuk menghormati orang-orang non-melek dan menganggap mereka sebagai berpengetahuan, sementara pada orang lain ia menggambarkan mereka sebagai berdaya dan bodoh ). Kemudian menyoroti fakta bahwa sementara banyak kelompok mengklaim untuk bekerja dengan nya metode yang paling digunakan primer (dengan frase hambar diganti dengan kata-kata yang lebih berbasis sosial) dan banyak perjuangan dengan ide dialog.

    Dibangun di atas kerangka teoritis Freire, dengan metodologi partisipatif; meliputi konsepsi luas keaksaraan sebagai salah satu dari banyak praktek komunikasi; dan berfokus secara eksplisit pada daya analisis.






Sumber: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Paulo_Freire
http://www.reflect-action.org/freire
http://www.freire.org/paulo-freire/

Sabtu, 11 Februari 2017

My Opinion About Education (Real Story)

    Pendidikan, ketika terbesit kata itu pada otak saya. Satu kata yang menyambungkannya pada kata pendidikan yaitu membosankan, guru, dan tidak hebat. Itu saja, karena walaupun saya sekarang adalah seorang mahasiswi. Tetapi pasti dulu saya pernah mengalami menjadi seorang siswi, baik di kelas SD, SMP, maupun SMA. Dan sesuai pengalaman saya, maupun anak- anak lain seusia saya pasti pernah merasakan bagaimana rasanya diajari oleh guru, lalu guru itu tidak bertindak sebagaimana mestinya, atau kita menyebutnya dengan tidak profesional. Hal itu pasti membuat mereka berpikir bahwa "Buat apa jadi guru? Toh banyak pekerjaanlain yang lebih elit dan menguntungkan." Awalnya saya juga berpikir seperti itu, karena saya sudah merasakan sekolah itu seperti apa, guru- guru itu seperti apa. Memang tidak semuanya tidak profesional, etapi dapat dikatakan hanya sedikit yang bekerja secara profesional. Tetapi, setelah saya memasuki jurusan Pendidikan Luar Sekolah ini, saya berpikir sumber daya manusia (SDM) di Indonesia harus diubah. Begitu juga cara belajar di Negara ini. Saya hanya beropini berdasrkan kesadaran yang telah saya peroleh selama saya berkuliah di Universitas saya sekarang ini. 

    Kalau boleh berbicara tentang takdir, saya sama sekali tidak pernah terbesit sedikitpun untuk menjadi seorang guru, ataupun seseorang yang berprofesi kemudian mengabdikan dirinya kepada negara dalam bidang pendidikan. Karena pada saat itu saya berpikir, apa elitnya bekerja menjadi guru atau dunia pendidikan itu apasih? Tetapi setelah saya dibelokkan takdirnya oleh Tuhan, dan saya harus menelan semuanya mentah- mentah. Jujur, saya adalah siswi jurusan IPA dan dulu bercita- cita menjadi dokter hewan. Tetapi ibarat jurang, saya terjerumus dan terjebak dalam dunia pendidikan yang tidak sesuai dengan jurusan dan minat saya. Awalnya saja benci, dan ingin mundur saja. Tetapi saya ingat sekali, ketika itu adalah mata kuliah orientasi dan etika profesi. Salah satu dosen saya memberikan bahan ajarnya kepada saya dan dibagikan kepada satu kelas. Pada saat itu seminggu setelah hari itu adalah uts, saya ingat sekali. Setelah itu, saya coba untuk membaca bahan ajar yang dibagikan dosen saya tadi, awalnya saya biasa saja. Masih malas untuk membaca semuanya karena saya rasa saya masih terjebak disini. Tetapi, setelah saya tiba pada satu halaman dimana pada halaman tersebut, terdapat janji- janji atau ikrar yang seharusnya dijalankan oleh seorang guru. Mulai dari situ hati saya terenyuh, dan jujur saya hampir meneteskan air mata. Karena begitu sucinya janji mereka dan pengabdian mereka seharusnya terhadap Negara, dan anak bangsa. 

    Disitu saya mulai sadar, dan berpikir bahwa Tuhan tidak membelokkan takdir saya. Saya bukan terjerumus ataupun terjatuh, melainkan Tuhan sedang membawa dan mengangkat saya ke dalam profesi yang paling mulia di dunia dan di akhirat. Dan saya berpikir bahwa menjadi seseorang yang bergelut di dunia pendidikan adalah hal yang paling mulia. Masuk ke jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ini mengajarkan saya akan hakikat dan makna guru serta pendidik yang sebenarnya. 

    Oleh sebab itu, saya ingin mengubah mental bangsa ini, saya ingin memberdayakan manusia Indonesia. Walaupun hanya sedikit. I'm not fail, but I'm on my way to be someone who change the world, eventhough just a little bit of the world. But the best goal is you can change it.