Selasa, 19 Desember 2017
Psikologi Orang Dewasa (Hidup Berkeluarga Dalam Masa Dewasa Awal)
PSIKOLOGI ORANG DEWASA
BAB X
Hidup Berkeluarga
Pada Masa Dewasa Awal
0.
Antara Kebutuhan dan Tugas Perkembangan
Terdapat dua hal
pokok yang mendorong terciptanya hubungan hidup berkeluarga. Pertama, kebutuhan
indivdu pada satu pihak. Kedua, tugas perkembangan pada lain pihak. Pemaduan
antara keduanya menimbulkan “enersi” yang membangkitkan gerak bagi individu
individu untuk bersatu dalam satu jalinan hubungan berkeluarga.
Diantara kebutuhan
yang utama dan kuat mendorong individu untuk hidup berkeluarga secara umum
adalah kebutuhan material, kebutuhan seksual, dan kebutuhan psikologis. Tetapi
dari segi psikologi, kebutuhan utama dan terkuat untuk berkeluarga bagi dewasa
awal adalah cinta, rasa aman, pengakuan, dan persahabatan.
Tugas perkembangan dewasa awal merupakan kegiatan pokok yang bersangkutan
dengan hidup berkeluarga. Tugas-tugas perkembangan yang dimaksud adalah memilih
teman bergaul ( sebagai calon suami atau istri), belajar hidup bersama dengan
suami atau istri, belajar mengasuh anak-anak, dan mengelola rumah tangga. Tugas-tugas
perkembangan itu tadi pada dasarnya merupakan tuntutan atau harapan-harapan
sosio-kultural dimana manusia itu hidup.
Hidup berkeluarga sebagai satu diantara
aspek kehidupan dewasa awal memiliki keanekaragaman liku-liku. Dari segi
psikologis, area pembahasan penting yang dibahas disini meliputi, persiapan
hidup berkeluarga, cinta dalam menghadapi hidup berkeluarga, dasar-dasar yang
memperkokoh rumah tangga, penyesuaian hidup berdua dalam perkawinan, an
penyesuaian dalam status keorangtuaan.
1.
Persiapan Hidup pada Masa Dewasa Awal
Dalam meninjau minat-minat individu untuk membentuk
hidup berkeluarga, dapat dimulai dengan meninjau perkembangan individu dalam
hal ketertarikannya dengan lawan jenis. Dalam masa pra-pubertas individu
kebanyakan menciptakan hubungsn-hubungsn persahabatan dengan teman-teman sebaya
tanpa pilih-pilih jenis kelamin. Kemudian diikuti dengan masa bermusuhan lawan jenis dan perssahabatan yang
berpusat pada sesama jenis kelamin. Dimana rasa pubertas telah mulai terasa,
individu-individu baik pria ataupun wanita merasa saling ketertarikan .setelah
itu biasanya mereka mulai membentuk hubungan primer melibatkan emosi secara
bertahap-tahap keterikatannya. Mulai dari hubungan selaras, kemudian berkencan,
selanjutnya dalam bentuk romans ( suatu hubungan berpasangan yang mendalam dan
berarti). Dalam proses yang digambarkan diatas tadi, sesungguhnya
individu-individu telah mengarah pada persiapan diri kehidup berkeluarga.
Hal diatas tadi
belum tentu merupakan jaminan bahwa pasangan-pasangan yang dipilih dalam
kencan, pacaran, atau romans adalah pasangannya dalam hidup berkeluarga. Ini
banyak yang tergnatung pada nilai-nilai budaya yang dianut oleh keluarganya,
daya mampunya untuk indipenden, serta daya perekat hubungan pasangan yang
bersangkutan.
Dalam sudut
pandang nilai budaya ada dua cara dalam pemilihan pasangan, yaiti:
(1). Pemilihan pasangan oleh orangtua
(2). Pemilihan yang dilakukan oleh pasangan itu
sendiri.
Cara pemilihan pertama sering dilakukan
dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai “ keutuhan keluarga”
dan “ penyatuan ekonomi “. Dalam masyarakat yang demikian itu, hubungan
perkawinan kebanyakan merupakan wahan bagi pemersatu keluarga besar dan
pelanjut warisan nama keluarga, serta kontinyuitas pertumbuhan ekonomi keluarga.
Jalan tengah dari cara ini biasanya
pilihan orangtua diinformasikan kepada anaknya tentang ciri-ciri pribadi yang
dinilai baik pada calon yang disodorkan pada anaknya. Dalam cara ini sang anak
boleh saja menolak, tetapi biasanya orangtua akan menggunakan segala cara agar
pilihannya diterima oleh anaknya, baik dengan sukarela maupun terpaksa.
Cara pemilihan kedua terjadi karena
perkembangan zaman yang menimbulkan juga perubahan nilai-nilai masyarakat.
Dalam masyarakat yang bermukim dipusat-pusat kota besar atau massa society,
misalnya banyak orangtua yang telah menyokong pemilihan pasangan yang dilakukan
oleh anaknya.
Jalan tengah dari cara kedua ini pada
umumnya sang anak menawarkan pilihannya kepada orangtua dan orangtua tinggal
meberikan pandangan-pandangan tambahan yang boleh jadi menyokong pilihan anak
dan boleh juga menghambatnya.
2. Cinta Dalam Menghadapi Hidup
Berkeluarga
Cinta merupakan satu kata yang
sangat penting dalam kehidupan sebuah pasangan. Ketika wanita dan pria
memutuskan ingin menikah maka cinta menjadi syarat mutlak agar kehidupan berkeluarga nantinya dapat
berjalan secra harmonis. Lebih baiknya jika seseorang menikah dengan orang yang
ia kehendaki, karena alasan saling mencintai, bukan karena dipaksakan oleh
pihak lain seperti orang tua atau yang lainnnya. Juga bukan karena keterpaksaan
karena kondisi.
Tetapi sering kali ketika menjalani
hubungan dengan pasangan kita, kita merasa ada beberapa kejanggalan dalam hati
kita yang mengacu pada pertanyaan “Apakah Saya benar-benar jatuh cinta kepada
Dia?” Nah, terkait hal tersebut, maka Saya akan memberi tau delapan tanda kalau
cinta yang Anda alami salah. Dengan kata lain itu adalah sesuatu hal yang
menyerupai Cinta, tetapi bukan merupakan cinta. Bagaimana tanda-tanda tersebut?
Berikut adalah penjabarannya.
Menurut
L. Kirkendall terdapat rambu-rambu cinta yang menyerupai cinta tetapi bukan
cinta:
1. Mendapatkan
kesenangan saat berkencan
Sering kali bagi pasangan
yang salah menafsirkan bahwa ketika saat-saat berkencan sering kali timbul rasa
senang yang merupakan perasaan-perasaan sesaat. Perasaan tersebut sering pula
digeneralisasikan bahwa diri “si pencinta” telah cocok satu sama lain dalam
berbagai aspek kehidupan. Contohnya dalam hal-hal kecil seperti hobi, atau
makanan kesukaan dan lain-lain. Hal ini sering terjadi pada pasangan-pasangan
muda. Sebenarnya belum tentu hal tersebut menjadi pertanda bahwa Anda benar-benar
mencintai pasangan Anda, karena bisa jadi nantinya setelah menikah dalam pola
mengasuh anak, atau emngatur keuangan, timbul masalah-masalah karena ketidak
sesuaian pendapat dan cara berfikir.
2. Adanya
kebanggaan yang disalah tafsirkan sebagai cinta
Hal ini sangat sering
terjadi pada pasangan-pasangan muda, terutama ABG-ABG yang sedang dilanda cinta
pada zaman SMA. Seorang perempuan atau laki-laki, akan merasa bangga jika
berhasil mendapatkan atau menggaet seseorang yang tengah menjadi idola di
sekolahnya atau dilingkungan kerjanya. Perasaan tersebut bukan cinta, melainkan
perasaan bangga karena dapat mengalahkan orang lain.
3. Daya
Tarik seksual yang salah ditafsirkan sebagai cinta
Seringkali
pasanga-pasangan muda yang memutuskan untuk segara menikah dikendalikan oleh
hawa nafsu. Mereka berpikir bahwa nantinya kehidupan ketika menikah akan lebih
nyaman dan lebih leluasa untuk lebih sering bercengkrama. Padahal kehidupan
setelah menikah pasti memiliki lika-liku yang lebih rumit dibandingkan
masa-masa pacaran. Kemudian tak sedikit pula wanita maupun pria yang tertarik
terhadap lawan jenisnya karena fisik belaka, seperti paras yang tampan atau
paras yang cantik.
4. Keinginan
memberontak dapat disalah tafsirkan sebagai cinta
Nah, hal yang satu ini
merupakan hal yang sering terjadi di Indonesia. Para pasangan muda sering kali
ingin mencari kebebasan sendiri dalam berpacaran tanpa dilarang-larang atau
tanpa ada baatsan dari orangtua mereka sehingga seringkali mereka memberontak
meminta cepat-cepat untuk menikah. Hal ini perlu diwaspadai, karena bisa saja
itu hanya nafsu belaka, dan setelah menikah bisa saja hubungan rumah tangga
yang dijalani berjalan tidak harmonis.
5. Nafsu
ingin memiliki dapat disalah tafsirkan sebagai cinta
Nafsu ingin memiliki yang
dimaksud dalam pembahasan kali ini yaitu rasa cemburu dan keinginan untuk
mengekang pasangan. Dapat juga dikatakan sebagai egois, sering kali wanita atau
pria mengekang pasangan mereka melakukan sesuatu dengan alasan “you’re mine.”
Atau alasan yang tidak jelas. Seharusnya tidak seperti itu, bebaskanlah
pasangan Anda, taruhlah kepercayaan dan buatlah komitmen dengan pasangan Anda.
Karena sesungguhnya cinta itu mengandung kebebasan.
6. Nafsu
ingin mengalahkan orang lain dapat disalah tafsirkan sebagai cinta
Bukan hanya kaum pria
saja, tetapi kaum wanita pada era modern ini juga pasti menganggap bahwa
berkencan dengan lawan jenisnya dianggap sebagai kompetisi antar pasangan yang
lain. Seringkali agar dilihat oleh rivalnya, ketika seorang pria atau wanita
berkencan dengan pasangannya sering kali selalu dipamerkan lewat media
sosialmereka agar rival, mantan, bahkan oranglain melihat mereka seolah-olah
mereka adalah pasangan yang klop dan bahagia.
7. Nafsu
untuk menjaga”gengsi” dapat disalah tafsirkan sebagai cinta
Nah, rambu-rambu ini
kerap dialami oleh orang dewasa orang zaman sekarang, atau yang biasa dibilang
“jaman now”. Perilaku ini biasanya dominan dimiliki oleh pria-pria jaman now.
Artinya apa? Ketika seorang pria atau wanita putus dari pasangannya, maka ia
ingin segera cepat-cepat menggaet pasangan yang baru. Alasannya kadang beragam,
ada yang tidak betah sendiri, ada yang tidak betah jika HP-nya sepi, dan yang
paling sering adalah mereka merasa gengsi ketika single, atau lebih sering
disebut dengan jomblo. Mereka malu jika dihadapan teman-teman mereka, mereka
dipanggil atau dijuluki jomblo. Hal ini terjadi mungkin karena di negara kita
jomblo selalu dianggap sendiri atau forever alone, jomblo is the sadest person
in the world. But, I think it is not true. Why? Mengapa harus malu dengan
status jomblo kalian? Bukankah jomblo itu sedang menunggu satu orang yang pasti
yang tidak akan mengecewakan kalian? Percuma menjalin hubungan jika tidak
berakhir dipelaminan.
8. Pemberian
hadiah dapat disalah tafsirkan sebagai cinta
Pemberian hadiah tidak
selalu ditafsirkan sebagai cinta. Bisa jadi pemberian hadiah merupakan cara
halus seorang pria terutama maupun wanita untuk mempertahankan pasangannya
meskipun sebenarnya pasangannya tersebut tidak mencintai pria atau wanita itu.
Nah, setelah mengetahui apa saja rambu-rambu yang menandakan
bahwa bisa saja cinta kalian bukanlah sebuah cinta, melainkan hanyalah nafsu
atau sesuatu yang menyerupai cinta tetapi itu sebuah jalan yang salah. Tetapi
berikutnya permasalahan yang muncul adalah bagaimana cara kita mengetahui jika
kita sedang benar-benar jatuh cinta dan mencintai seseorang? Suatu tes yang
berisikan lima pertanyaan yang telah diajukann oleh Charlie W. Shedd dalam
bukunya “How To Know If You’re Really in Love?” Berikut adalah kelima ter
tersebut:
1. The Liberty Test (Tes
Kemerdekaan)
Maksuda dari tes
kemerdekaan ini adalah sudah seberapa saling mendukungkah kalian sebagai
pasangan? Apakah kalian saling mendukung karir kalian atau apapun yang kalian
lakukan satu sama lain? Mengapa hal ini perlu ditanyakan, karena letak
kebesaran dan semangat cinta adalah “menciptakan ruang kebebasan”. Sebagai
wanita atau pria, kita harus menyediakan ruang kebebasan dan peluang bagi
pasangan kita agar ia dapat menciptakan kemandirian yang sehat. Terkadang
menciptakan ruang didalam sebuah hubungan itu merupakan hal yang diperlukan,
sebagimana yang dikatakan oleh Khalil Gibran “Biarkan terdapat jarak dalam
kebersamaan Anda.”
2.
The
Unselfishness Test (Tes Tak Mementingkan Diri Sendiri)
Jika kalian sudah merasa
saling mengerti antara Anda dan pasangan Anda, maka selamat tes kedua dari lima
tes yang ada sudah kalian lewati dengan baik. Cinta tidak mengenal pamrih.
Janganlah kalian sering berfikir “Apa yang sudah ia berikan kepada saya?” “Lalu
saya harus membalasnya dengan apa? Jangan terlalu berlebihan, karena diapun
belum memberikan saya apa-apa” Jangan mementingkan diri sendiri ditengah
hubungan kalian, berfikirlah bahwa “Saya mencintai Anda karena Anda adalah
Anda.” Terlalu banyak bahkan tidak terhingga banyaknya butir-butir cinta yang
timbul dari sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Karenanya, janganlah
diringgalkan begtu saja kesempatan-kesempatan ekstra Anda untuk mengemukakan
hal yang kecil, tetapi sangat berarti.
3. The Mercy-Apolgy Test
(Tes Maaf-memaafkan)
Apakah Anda sudi menelfon
atau mengirimkan pesan kepada pasangan Anda terlebih dahulu ketika kalian
bertengkar? Cinta dalam cara-caranya dan fitrahnya tidak pernah menganjurkan
pertanyaan seperti “Kaulah yang meminta maaf, karena kaulah yang salah.”
Sebaliknya, cinta ang murni akan selalu mengatakan “Saya yang salah, Saya
meminta maaf, sudah jangan bertengkar lagi.” Masalahnya adalah bukan siapa yang
salah, tetapi siapa yang sayang siapa yangberbesar hati.
4. The Sex Test ( Tes Mengenai Sex)
Tes ini diperuntukan
untuk orang-orang atau pasangan yang telah menikah. Apakah Anda peka terhadap
kebutuhan-kebutuhan seks pasangan Anda? Dalam perkawinan-perkawinan yang baik,
semangat jiwa perkawinan mereka adalah “Membuat perundingan berbagai bentuk
yang diinginkan untuk membicarakan tentang kerukunan dan rasa damai yang inti
itu.”
5. The Money Test (Tes
Tentang Keuangan)
Apakah Anda menganut
filsafat kebersamaan dengan pasangan Anda tentang gaji atau pendapatan? Uang
dapat dijadikan media untuk pemesrsatu pasangan. Hendaknya Anda dengan pasangan
Anda telah memiliki komitmen tentang keuangan ketika akan menikah. Hal tersebut
akan mendukung terbentuknya sebuah rumah tangga yang baik.
Dari berbagai uraian diatas, maka dapat disimpulkan
beberapa hal. Yaitu adalah cinta memang merupakan istilah sederhana yang sukar
diartikan secara persis. Charlie W. Shedd mengemukakan bahwa cinta itu dapat
muncul di sembarang bentuk, misalkan persahabatan, kencan, tertawa bersama dan
pertemanan yang menyenangkan satu sama lain. Kemudian L. Saxton mengemukakan
bahwa unsur cinta meliputi; Altruisme,
Cinta Persahabatan, Cinta Seks, dan Cinta Romantisme. Sedangkan Sorokin
(1961) menyebutkan bahwa cinta itu memiliki “enersi” yang meskipun berbeda
dengan apa yang dimiliki oleh pisis, namun
enersi cinta menimbulkan suatu sifat kreatif yang amat kuat, mengandung
sifat-sifat rekreatif dan mengandung kekuatan untuk mengobati.
3.
Dasar-Dasar
yang Memperkokh Rumah Tangga
Ada
beberapa aspek yang dapat memperkokoh rumah tangga, yaitu:
a. Latar
belakang: Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda semakin baik
latar belakang dan pola asuh yang diterapkan orangtuanya maka semakin baik juga
sikap orng ter sebut ketika berumah tangga.
b. Usia
Perkawinan: Hendaknya pasangan menikah pada waktu yang tepat, jangan terlalu
ingin cepat-cepat ingin menikah karena nafsu. Menikahlah dengan pasangan yang
sudah mapan, yang sudah memiliki sifat dan emosional yangs tabil agar tidak
terjadi konflik rumah tangga ketika sudah menikah.
c. Kesiapan
jabatan pekerjaan: Semakin tinggi jabatan dan gaji seseorang semakin menjamin
pula keadaannya untuk siap menikah.
d. Kematangan
Emosional: Kebanyakan dari pasangan-pasangan muda mengakhiri pernikahannya
karena belum matangnya emosi. Ketika ada konflik sedikit maka yang mereka
ucapkan adalah kata cerai. Sebaiknya menikahlah diusia yang sudah matang
emsionalnya seperti 25 atau 26 tahun.
4.
Penyesuaian
Hidup Berdua Dalam Masa Dewasa Awal
Pengalaman-pengalaman hubungan
pribadi yang berlanjut dalam hidup perkawinan antara pria dan wanita sungguhnya
telah dimiliki dalam masa-masa sebelumnya. Pengalaman tadi bersangkutan dengan
pemahaman social secara luas yang telah mereka kembangkan dan adanya
kemampuan-kemampuan untuk kerja sama dengan orang lain. Orang dewasa telah
popular selama masa kanak-kanak dan masa remajanya memiliki kemampuan untuk
mengadapkan penyesuaian dengan orang lain.
Berapa factor yang berperan utama
dalam hal ini adalah citra mengenai pasangan yang ideal, pengalaman pengalaman
masa muda, kesamaan latar belakang, minat minat bersama, pandangan pandangan
mengenai peran. (Hurlock; 1968)
Keintiman hubungan dalam hidup
perkawinan umumnya membuka ‘topeng-topeng’ yang pernah digunakan dalam masa
pacaran. Jika apa yang di idealkan itu tadi ternyata tidak banyak lagi yang
Nampak dalam perkawinan., maka pasangan itu dituntut lagi untuk menyesuaikan
diri dengan realitas yang dihadapinya mengenai pribadi pasangannya. Jika
ternyata apa yang di idealkan itu tadi sedikit saja ketidakcocokannya dalam
hidup perkawinan, maka pasangan yang bersangkutan mungkin sekali kurang
mengahadapi soal penyesuaian.
Kebutuhan kebutuhan yang terhambat
pemenuhannya dalam masa-masa lalu kehidupan seseorang haruslah mendapat
perhatian khusus oleh pasangannya agar tercipta penyesuaian yang baik. Contoh,
seorang suami yang dimasalalunya kurang mampunyai kesempatan untuk berprestasi,
atau kurang mendapatkan pengakuan dari kelompoknya, maka istrinya diharuskan
menunjangnya untuk mendapatkan prestasi dan penerimaan kelompok terhadap
suaminya. Semakin banyak kesamaan latar-belakang suatu pasangan maka makin
mudah bagi pasangan yang bersangkutan untuk mengadakan penyesuaian.
Kesamaan nilai-nilai yang dianut
merupakan factor penting yang mempengaruhi mudah atau sukanya dia akan
penyesuaian dalam hidup perkawinan. Pasangan-pasangan yang memiliki kesamaan
nilai-nilai yang dianut umunnya lebih mudah menciptakan penyesuaian kebanding
pasangan yang mempunyai perbedaaan nilai, budaya, keilmuan, dll. Dengan
demikian misalnya, seorang yang memiliki latar belakang “hidup bebas” sudah
barang tentu akan mengalami kesulitan mencapai penyesuaian dengan pasangan yang
hidup disiplin akibat pendidikan yang disiplin.
Persoalan yang seringkali timbul
dalam hal ini adalah adanya ketidak samaan pandangan antara suami dan isteri,
dan antara peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh seorang dengan peran yang
senyatanya dilakukan dalam hidup perkawinan. Dalam begitu, misalnya, seseorang
isteri yang memegang konsep perencanaan secara modern yang berpasangan dengan
suami yang lenih condong pada konsep peran tradisional, seringkali menghadapi
situasi yang menimbulkan kesukaraan penyesuaian. Begitu pula, misalnya seorang
suami yang menginginkan berperan dominan dalam banyak aspek kehidupan keluarga,
jika karena beberapa hal (misalkan suami belum bekerja sedangkan isteri
bekerja) sehingga tidak dapat mendominasi isteri akan menghadapi kesukaran penyesuaian.
5. Penyesuain Dalam Status Keorangtuaan
Kedudukan sebagai orangtua merupakan akibat wajar dari
perkawinan dan merupakan akibat logis dari lahirnya anak. Kondisi-kondisi
akibat lahirnya anak pertama, yang menjadikan seseorang meraih status sebagai orangtua
tadi, menimbulkan situasi baru. Kondisi dan situasi baru tadi menuntut tanggung
jawab baru dan kematangan dewasa awal untuk menghadapinya, yang mana diwujudkan
oleh dewasa awal tadi dalam keluwesannya mengadakan penyesuaian.
Sangat banyak kondisi yang dapat menimbulkan kesukaran
penyesuaian yang dapat dilakukan seseorang dalam statusnya sebagai orangtua.
Kondisi yang paling sulit bagi penyesuaian tadi adalah terjadinya kehamilan
atau hamil di luar perkawinan, kesulitan itu tidak saja karena adanya cemoohan-cemoohan
masyarakat sekitar melainkan juga (bahkan terutama) bersangkutan dengan
sikap-sikap mereka terhadap “suami” dan sikap terhadap cabang bayi atau bayinya
itu sendiri
Wanita hamil sebelum menikah pada umumnya merasa dendan dan
iri hati terhadap “suami”-nya, ini boleh jadi karena mereka perpandangan bahwa
pria yang telah membuatnya hamil itu hanya merasakan enak nya saja, tanpa
banyak memikul beban psikologis seperti malu, rendah diri, terpandang hina dan
sebagainya. Keadaan yang digambarkan di atas tadi sangat jarang terjadi di
kalangan wanita yang hamil setelah menikah, sehingga penyesuaian-penyesuaian
yang dapat dilakukan oleh wanita yang menjadi orangtua setelah menikah
cenderung mudah. Karena itu, mereka ini umumnya mencapai peyesuaian kedudukan
sebagai orangtua secara baik, yang meskipun untuk itu mereka masih dipengaruhi
oleh berbagai faktor lainnya.
Menurut hurlock ada beberapa faktor utama yang dapat mempengaruhi penyesuaian terhadap status
keorang-tuaan, yaitu:
1. Sikap
terhadap kehamilan
Sikap terhadap kehamilan tentu
saja terutama dialami oleh wanita, yang kendatipun penyesuaian terhadapnya
dipengaruhi pula oleh sikap-sikap calon ayah seperti penerimaan dan pemahaman
suami terhadap perubahan-perubahan biologis dan psikologis isteri.
2. Sikap
terhadap peranan sebagai ayah/ibu
Sikap para wanita terhadap
status keorang-tuaannya diwarnai oleh kondisi pisis sebelum kehamilan dan
sikapnya terhadap peranan biologis kewanitaan, disepakati oleh banyak ahli
bahwa pria yang menganut konsep peranan ayah secara tradisional akan
merasakan bahwa sokongan utama mereka
terhadap anak adalah ekonomi/keuangan.
Sikap terhadap peranan ayah atau
ibu sangat beragam di antara orangtua-orangtua. Keragaman dimaksud bersangkutan
antara lain, dengan tingkat usia ayah atau ibu, dan konsep-konsep peran
keorangtuaan yang dianutnya.
3. Jenis
kelamin anak
Jenis kelamin anak sebagai salah
satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian dalam kedudukan sebagai orangtua
berhubungan dengan harapan-harapan orangtua terhadap jenis kelamin anak yang
akan dilahirkan serta”liku-liku” dalam memelihara anak jenis kelamin tertentu.
Kebanyaka orang dewasa baik pria
maupun wanita menginginkan anak laki-laki sebagai putera pertamanya, mereka
mengharapkan anak perempuan sebagai puteri kedua. Dan jika jumlah anak mereka
akan banyak, mereka mengharapkan memperoleh anak-anak yang sebanding jumlahnya
antara laki-laki dan perempuan.
4. Jumlah
anak
Jumlah anak, banyak juga
pengaruhnya terhadap penyesuaian yang dapat dilakukan dalam status
keorang-tuaan seorang ayah atau ibu. Meskipun demikian, masih juga ada beberapa
orang, terutama kaum pria yang masih menganut konsep ayah secara tradisional,
yang cenderung memilih banyak anak. Ini juga tidak terlepas dari pengaruh
keluarga sebagai keluarga besar atau pengaruh masyarakat; termasuk didalamnya
pomeo-pomeo seperti “banyak anak banyak rezeki” atau “setiap anak memiliki
rezekinya masing-masing”.
5. Harapan-harapan
sebagai ayah/ibu
Harapan-harapan sebagai ayah
atau ibu bersangkutan dengan konsep mereka mengenai anak “ideal’ yang mereka
impi-impikan anak “ideal” tadi dapat bersangkutan dengan penampilan fisik
(termasuk wajah), sikap-sikap yang budi pekerti, kecakapan, bakat dan minat,
dan sebagainya yang dinilai baik.
6. Sikap-sikap
terhadap pekerjaan
Orangtua yang bersifat realistis
terhadap pekerjaan, pada satu pihak, akan dapat memahami aspirasi-aspirasi
jabatan anaknya, mempertimbangkan ciri-ciri pribadi anak mereka, serta tahu
seluk-liku kesempatan kerja. Kebanyakan orangtua seperti ini tidak terlalu
menghadapi kesukaran dalam hal penyesuaian pola “tutwuri handayani” dalam
pemilihan jabatan-pekerjaan sang anak. Dalam masa dewasa awal, mereka tidak
memaksa anak memilih jurusan sekolah tertentu.
7. Sikap-sikap terhadap perubahan peranan
Sikap-sikap terhadap perubahan
peranan merupakan, faktor terkahir, tetapi tidak kurang pentingnya, dalam
mempengaruhi pencapaian penyesuaian dalam kedudukan orang dewasa sebagai ayah
atau ibu. Kedudukan sebagai orangtua, menurut E.E. LeMasters, merupakan suatu
masa “genting” atau “kemelut” atau “crisis”. Suatu situasi dimana terjadi
“perubahan-perubahan yang tajam dan bersifat memaksa yang harus dilakukan
terhadap pola-pola kuno yang tidak lagi
layak atau memadai dalam masa kini.
Di atas telah dikemukakan bahwa
dengan perubahan peranan orangtua dapat mengacaukan ketenteraman dan kedamaian
keluarga. Kekacauan tadi dapat diwujudkan secara psikologis dan psikologis
misalnya dalm bentuk sukar tidur, kelelahan yang luar biasa, kehabisan tenaga,
dan keguguran yang sering dialami.
Melaui uraian-uraian tersebut
diatas, dapat dirangkumkan bahwa adanya perubahan-perubahan peranan yang
memaksa dalam kedudukan seseorang sebagai ayah atau ibu dapat menimbulkan
berbagai sikap-sikap yang merugikan bagi penyesuaian mereka. Didalamnya terdapat
gangguan kedamaian rumah-tangga, tekanan-tekanan psikologis dan
gangguan-gangguan psikologi yang kesemuanya menimbulkan kesulitan bagi
orang-orang dewasa yang bersangkutan untuk mengadakan penyesuaian yang baik
dalam kedudukannya sebagai orangtua.
Langganan:
Postingan (Atom)