Sabtu, 01 April 2017

Perkembangan Konsep Diri (Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah)

Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah
            Pada usia sekolah, seiring pertumbuhan fisik, kognitif, dan kemampuan sosialnya. Anak usia sekolah dasar juga mengalami perubahan dalam pandangan terhadap dirinya sendiri. Mc Devit dan Ormrod, 2002 memberikan gambaran tentang perubahan konsep diri pada diri anak sekolah dasar (usia 6-10 tahun):
Research indicates that childern’s self- concepts sometimes drop soon after they they begin elementary school, probably as result of the many new academic and social challenges that school presents. Elementary school gives children many occasions to compare their performance with that of peers, and so their self-assessments gradually become more realistic. Yet this comparative approach inevitably creates “winners” and “losers”. Children who routinely find themselves at the bottom of heap must do some fancy footwork to keep their sel-esteem intact. Often, they focus on performance areas in which they excel (e.g. sports, social relationships, or hobbies) and discount areas that give them trouble (e.g. “Reading is dumb”). Perhaps because they have so many domains and experience to consider as they look for strengths in their own performance, most children maintain fairly high and stable self-esteem during the elementary school.
            Kutipan diatas menggambarkan tentang perubahan-perubahan dalam konsep diri anak usia sekolah dasar. Pada awal-wal masuk sekolah dasar, terjadi penurunan dalam konsep diri anak. Hal ini disebabkan oleh tuntutan baru dalam akademik dan perubahan sosial yang muncul di sekolah. Sekolah dasar banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk membandingkan dirinya dengan temannya, sehingga penilain dirinya secara gradual menjadi lebih realistik.
            Pada usia sekolah dasar anak- anak sering memfokuskan perhatiannya pada bidang-bidang dimana mereka unggul (seperti: olahraga, hubungan sosial, ataupun hobi), dan kurang perhatiannya kepada bidang-bidang yang memberikan kesukaran baginya. Kebanyakan anak berusaha untuk mempertahankan harga diri mereka selama tahun-tahun sekolah dasar.
            Menurut santrock (1995), perubahan- perubahan dalam konsep diri anak selama tahun- tahun sekolah dasar dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tigas karakteristik konsep diri, yaitu:
1.)    Karakter internal
            Dalam karakter internal, anak lebih cenderung mendefinisikan dirinya melalui keadaan-keadaan dalam yang subjektif daripada melalui keadaan-keadaan luar atau fisik. Penelitian F. Abound dan Skerry (1983), menemukan bahwa anak-anak usia kelad dua jauh lebih cenderung menyebutkan karakteristik psikologis (seperti preferensi atau sifat-sifat kepribadian) dalam mendefinisikan diri mereka dan kurang cenderung menyebutkan karakteristi fisik (seperti warna rambut, warna kulit, warna mata). Misalnya anak usia 8 tahun mendeskripsikan dirinya sebagai: “Aku seorang yang pintar dan terkenal.” Anak usia 10 tahun mendeskripsikan dirinya dengan: “Aku cukup lumayan tidak khawatir terus-menerus, Aku biasanya suka marah, tetapi sekarangs sudah lebih baik.”
2.)    Karakteristik Aspek Sosial
            Dalam usia sekolah dasar aspek sosial anak juga cenderung meningkat. Dalam suatu investigasi, anak-anak sekolah dasar seringkali menjadikan kelompok-kelompok sosial sebagai acuan dalam deskripsi diri mereka (Livesly & Bromley, 1983). Misalnya seorang anak mengaku sebagai Pramuka perempuan, sebagai seorang Muslim, atau sebagai sepasang sahabat karib.
3.)    Karakteristik Perbandingan
            Pada tahap perkembangan ini, anak-anak cenderung membedakan diri mereka dari orang lain secara komparatif daripada secara absolut. Misalkan, anak-anak usia sekolah dasar tidak lagi berpikir tentang apa yang “Aku lakukan” atau yang “tidak Aku lakukan”, tetapi cenderung berpikir tentang “apa yang dapat aku lakukan” dibandingkan dengan “apa yang dapat dilakukan oleh orang lain.”
            Sejumlah ahli psikologi perkembangan percaya bahwa dalam perkembangan pemahaman diri, pengambilan perspektif (Perspective-taking) memainkan peranan yang penting. Robert Selman (dalam Santrock, 1995) percaya bahwa pengambilan perspektif melibatkan suatu rangkaian yang terdiri atas lima tahap, yang berlangsung dari usia 3 tahun hingga masa remaja. Dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tahap pengambilan perspektif
Usia
(tahun)
Deskripsi
Perspektif yang egosentris
3 – 6
Anak merasakan adanya perbedaan dengan orang lain, tetapi belum mampu membedakan antara perspektif sosial (pemikiran, perasaan )orang lain dan perspektif diri sendiri. Anak dapat menyabutkan perasaan orang lain, tetapi tidak melihat hubungan sebab dan akibat pemikiran dan tindakan sosial.
Pengambilan perspektif sosial internasional
6 – 8
Anak sadar bahwa orang lain memiliki suatu perspektif sosial yang didasarkan atas pemikiran orang itu, yang mungkin sama atau berbeda dengan pemikirannya. Tetapi anak cenderung berfokus pada perspektifnya sendiri dan bukan mengkoordinasikan sudut pandang.
Pengambilan keputusan diri reflektif
8 -10
Anak sadar bahwa setiap orang sadar akan perspektif orang lain dan bahwa kesadaran ini memengaruhi pandangan dirinya dan pandangan orang lain. Menempatkan diri sendiri di tempat orang lain merupakan suatu cara untuk menilai maksud, tujuan, dan tindakan orang lain. Anak dapat membentuk suatu mata rantai perspektif yang terkoordinasi, etapi tidak dapat mengabstraksikan proses-proses ini pada tingkat timbal balik secara serentak.  
Saling mengambil perspektif
10 -12
Anak remaja menyadari bahwa baik diri sendiri maupun orang lain dapat memandang satu sama lain secara timbal balik dan secara serentak sebaga subjek. Anak remaja dapat melangkah keluar dari kedua orang itu  dan memandang interaksi dari perspektif orang ketiga.
Pengambilan perspektif sistem sosial dan konvensional
12 – 15
Anak remaja menyadari pengambilan perspektif bersama tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sempurna. Konvensi sosial dilihat sebagai sesuatu yang penting karena dipahami oleh semua anggota kelompok, tanpa memandang posisi, peran, atau pengalaman mereka.


            Menurut sejumlah ahli lain, anak-anak usia 6 tahun mampu memahami perspektif orang lain. Peneliti lain mencatat bahwa seseorang yang berusia sama belumbisa diasosiasikan dengan masing-masing tingkat, sebab kemampuan anak dlam pengambilan peran mungkin berfluktuasi darisuatu waktu ke waktu lain (Maccoby, 1980). Demikian juga anak yang memahami perspektif orang- orang yang familiar dalam situasi yang familiar, mungkin kurang mampu dalam memahami orang atau situasi yang tidak familiar (Flapan, 1968). 

DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Riyadi, Muchlisin. Pengertian dan Komponen Konsep Diri. http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-komponen-konsep-diri.html. Diakses pada 01 April 2017, pukul 03.16. 

1 komentar:

  1. Best Online Baccarat in India - febcasino.com
    Free Live Baccarat for all Live Players at FEBCASINO. Enjoy an in-depth guide to the live Baccarat industry and the best casino game 바카라 양방 providers. Rating: 5 · ‎9 reviews

    BalasHapus