Rabu, 15 Maret 2017

Pedagogik Kritis dalam Teknologi Pendidikan II

B.  Teori Kritis dalam AECT
            Salah satu karya Nichols dalam buku editan Hlynka dan Belland (1991) berjudul Paradigmm Regained: The Uses of Illuminative, Semiotic, and Postmodern Criticism as Modes of Inquiry in Educational Technology menawarkan teori aksi komunikatif Habermas sebagai metode kritis dalam praktik teknologi pendidikan, setelah terlebih ia menyimpulkan bahwa teknologi pendidikan selama ini tidak lebih dari sistem aksi rasional bertujuan. Kemudian Hlynka dan Yeaman (1992) dalam nuansa postmodern menyatakan bahwa tidaka da satu cara terbaik dalam mengaplikasikan teknologi. Selain itu mereka juga menyatakan bahwa justr dengan pendekatan postmodern akan membuat perbedaan yang positif dalam bidang kajian teknologi pendidikan.
            Dilanjutkana oleh Wilson (Dalam Nichols &Allen- Brown; 1996: 238) telah menguji hubungan desaign pengajaran dengan ideology dalam pendidikan. Ia menyatakan: Siapa yang mendesain pembelajaran, apa yang didesain, untuk siapa desain ditujukan, mengapa pembelajaran didesain dan bagaimana mestinya desain tersebut dikerjakan. Senada dengan itu Streibel (1991) dengan pendekatan Habermasian juga telah merekomendasikan bahwa desainer pengajaran harus memberi ruang kosong bagi guru dan pelajar untuk membangun penilan mereka sendiri mengenai desain yang bagus.
            Ketika komputer mulai digunakan sebagai fasilitas pembelajaran, Streiber (1985) juga telah menganalisis secara kritis pendekatan drill & practice, tutorial, simulasi, dam memprogramyang dilakukan dengan menggunakan komputer. Dengan menggunakan gagasan Hebermas tentang kontruksi sosial pengetahuan ia menyimpulkan bahwa penggunaan computer untuk pendidikan seringkali menjadi sangat deterministic dan behavioral, selain itu juga menjadikan pelajar kurang berkembang intelektualitas mereka dalam soal kualitatif, dialektika, penegtahuan, juga ranah pengalaman alami dans sosial mereka.
            Senada dengan Streiber, Bromley (dalam Nicholas & Allen- Brown; 1996: 238) menyatakan bahwa computer yang kita gunakan akan mengarahkan kita kepada individualisme, teknik- teknik pasti, kepastian- kepastian kuantitatif, dominasi atas alam, efisiensi, nalar sistem pengajaran, berpikir top down, positivisme, dan sentralisasi.

            Lain halnya dengan Robinson, Wiegmann, dan Nicholas, mereka menggunakan pendekatan baru (unconventional) dalam mengevaluasi materi pengajaran, termasuk materi video pembelajaran. Peterson (Nicholasn& Allen; 1996: 239) mengkaji efek pembelajaran computer di Queensland, Australia. Kemudian ia menyarankan agar guru mencoba memastikan para siswa untuk tetap waspada terhadap efek sosial dari penggunaan computer tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar