Rabu, 15 Maret 2017

Pedagogik Kritis dalam Teknologi Pendidikan V

Ketika Teknologi Pendidikan Tanpa Pedagogik Kritis
            Apabila seseorang bertanya, bagaimana kondisi kajian teknologi pendidikan tanpa pedagogik kritis? Jawabannya sangat sederhana yaitu Anda dapat melihat bagaimana praksis teknologi pendidikan di Indonesia.
            Pertama, absennya teori kritis dan pedagogi kritis akan emnjadikan teknologi pendidikan terasing dan tercabut dari konteks sosio- kultural sekitarnya. Hal ini tentu berbahaya karena akan menjadikan teknologi pendidikan tidak sensitive terhadap masalah- masalah yang terjadi dalam ranah sosio- kultural tersebut akibat hadirnya teknologi pendidikan.
            Kedua, kajian praksis teknologi pndidikan sekarng hanya berkutat pada msalah teknis, yakni hal- hal yang bersifat permukaan saja. Misalnya soal bagaiman amendesain media pembelajaran yang sesuai dan baik, bagaimana mengefektifkan dan melakukan efisiensi dalam produksi penggunaan teknologi pendidikan dalam pembelajaran dan lain- lain. Sebaliknya masalah seperti etika, moral, filosofi, ideology, dan sejenisnya tidak mendapat banyak perhatian.
            Ketiga, terjadi fenomena atau tren teknologisasi, digitalisasi, dan gadgetisasi. Hal ini terlihat dari upaya pemerintah dan pihak- pihak yang terkait sampai sekarang masih berkutat pada masalah bagaimana membangun infrastruktur yang baik, agar kecepatan atau ekselerasi belajar siswa dan mahasiswa makin tinggi dalam mengakses informasi.
            Keempat, munculnya anggapan bahwa teknologi dan media untuk pembelajaran adalah netral (teori instrumental, Freenberg, 2002). Fenomena yang terjadi adalah adanya rasa yakin dan optimism tinggi bahwa dengan menggunakan teknologi canggih dalam proses pembelajaran dan pendidikan maka semua masalah pendidikan dapat teratasi. Pandangan seperti ini akan mengurangi kemampuan kritis dalam melihat potensi negate dari teknologi, hal inilah yang disebut dengan technopositivism. Yakni sebuah ideology yang meyakini bahwa kebenaran jani- jani yang dibawa dengan hadirnya teknologi ( Robertson, 2003).

Kemudian dari semua pernyataan diatas muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan?

            Pertama, jelas harus membangun fondasi filosofis, ideologis, dan sosio- kultural yang kuat dari kajian dan praksis teknologi pendidikan, lainnya adalah akan makin jeli dan kritis dalam melihat kemungkinan potensi dan akibat negatif dari praktik pendidikan.


            Hal selanjutnya yang harus dilakukan tentu mengawalinya dengan mengenalkan, mempelajari lebih baik dan mendalam serta menerapkan dalam kajian dan praksis teknologi pendidikan. Nicholas & Allen-Brown (dalam Jonassen [ed.], 1996: 245-246) menyatakan: seorang teknolog pendidikan arus menggunakan metodologi penelitian dari perspeaktif teori kritis yang non-koersif dan lebih demokratif. Selain itu teknolog  pendidikan juga harus banyak terlibat dalam riset isu- isu yang lebih bersifat mendasar dan esensial yang selama ini dilupakan. Seorang teknolog pendidikan juga harus menjadi seorang pedagogik/ pendidik kritis yang berupaya membawa proses pendidikan dan pembelajaran lebih bermakna. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar