Ketika
Teknologi Pendidikan Tanpa Pedagogik Kritis
Apabila seseorang bertanya,
bagaimana kondisi kajian teknologi pendidikan tanpa pedagogik kritis?
Jawabannya sangat sederhana yaitu Anda dapat melihat bagaimana praksis
teknologi pendidikan di Indonesia.
Pertama,
absennya teori kritis dan pedagogi kritis akan emnjadikan teknologi pendidikan
terasing dan tercabut dari konteks sosio- kultural sekitarnya. Hal ini tentu
berbahaya karena akan menjadikan teknologi pendidikan tidak sensitive terhadap
masalah- masalah yang terjadi dalam ranah sosio- kultural tersebut akibat
hadirnya teknologi pendidikan.
Kedua,
kajian praksis teknologi pndidikan sekarng hanya berkutat pada msalah teknis,
yakni hal- hal yang bersifat permukaan saja. Misalnya soal bagaiman amendesain
media pembelajaran yang sesuai dan baik, bagaimana mengefektifkan dan melakukan
efisiensi dalam produksi penggunaan teknologi pendidikan dalam pembelajaran dan
lain- lain. Sebaliknya masalah seperti etika, moral, filosofi, ideology, dan
sejenisnya tidak mendapat banyak perhatian.
Ketiga,
terjadi fenomena atau tren teknologisasi, digitalisasi, dan gadgetisasi. Hal
ini terlihat dari upaya pemerintah dan pihak- pihak yang terkait sampai
sekarang masih berkutat pada masalah bagaimana membangun infrastruktur yang
baik, agar kecepatan atau ekselerasi belajar siswa dan mahasiswa makin tinggi
dalam mengakses informasi.
Keempat,
munculnya anggapan bahwa teknologi dan media untuk pembelajaran adalah
netral (teori instrumental, Freenberg, 2002). Fenomena yang terjadi adalah
adanya rasa yakin dan optimism tinggi bahwa dengan menggunakan teknologi
canggih dalam proses pembelajaran dan pendidikan maka semua masalah pendidikan
dapat teratasi. Pandangan seperti ini akan mengurangi kemampuan kritis dalam
melihat potensi negate dari teknologi, hal inilah yang disebut dengan technopositivism. Yakni sebuah ideology yang
meyakini bahwa kebenaran jani- jani yang dibawa dengan hadirnya teknologi (
Robertson, 2003).
Kemudian
dari semua pernyataan diatas muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan?
Pertama, jelas harus membangun
fondasi filosofis, ideologis, dan sosio- kultural yang kuat dari kajian dan
praksis teknologi pendidikan, lainnya adalah akan makin jeli dan kritis dalam
melihat kemungkinan potensi dan akibat negatif dari praktik pendidikan.
Hal selanjutnya yang harus dilakukan
tentu mengawalinya dengan mengenalkan, mempelajari lebih baik dan mendalam
serta menerapkan dalam kajian dan praksis teknologi pendidikan. Nicholas &
Allen-Brown (dalam Jonassen [ed.], 1996: 245-246) menyatakan: seorang teknolog
pendidikan arus menggunakan metodologi penelitian dari perspeaktif teori kritis
yang non-koersif dan lebih demokratif. Selain itu teknolog pendidikan juga harus banyak terlibat dalam
riset isu- isu yang lebih bersifat mendasar dan esensial yang selama ini
dilupakan. Seorang teknolog pendidikan juga harus menjadi seorang pedagogik/
pendidik kritis yang berupaya membawa proses pendidikan dan pembelajaran lebih
bermakna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar