Jumat, 31 Maret 2017

Tinjauan Psikologi Sosial terhadap Perilaku Kolektif

A.    Pengertian Perilaku Kolektif

            Perilaku kolektif adalah berpikir berperasaan, dan bertindak sekumpulan individu yang secara relative bersifat spontan  dan tidak terstruktur yang berkembang dalam suatu kelompok atau populasi sebagai akibat dari saling stimulasi antar individu. Perilaku kolektif ini juga tidak diatur oleh norma- norma tertentu dan tidak dilembagakan. Bahkan, karena sering kali karakteristk perilaku kolektif yang bersifat spontan dan tidak testruktur maka perilaku itu menjadi melanggar norma- norma sosial yang sudah mapan (Mueller & Kendall, 2004). Demikian pula, karena alasan- alasan etika, perilaku kolektif sulit untuk diteliti secara objektif melalui penelitian eksperimen atau eksperimen lapangan (Landis, 1989).

B.     Teori Nilai Tambah terhadap Perilaku Kolektif

            Neil Smelser (Stephan & Stephan, 1990) yang mengajukan teori nilai tambah (Value added theory) bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku kolektif. Dalam setiap proses terjadinya perilaku kolektif, setiap tahap dipengaruhi tahap sebelumnya. Enam tahap itu adalah kekondusifan struktural, kendala struktural, berkembang dan menyebarnya keyakinan yang digeneralisasikan, faktor- faktor yang memicu, mobilitas partisipasi bagi suatu gerakan, dan operasi kontrol sosial.
            Kekondisifan struktural adalah kondisi- kondisi sosial umum yang dapat menyebabkan timbulnya suatu perilaku kolaktif. Contohnya yaitu pada saat terjadinya peristiwa panik belanja Sembilan bahan pokok pada krisis moneter pada tahun 1998. Hal ini menyebabkan orang- orang menjadi resah, cemas, dan panik terhadap jaminan ketersediaan sembilan bahan pokok.
            Kendala struktural biasanya terjadi apabila bervariasi aspek dari suatu sistem sosial tidak berjalan secara harmonis. Seperti terjadinya perang, kerusuhan, ataupun krisis ekonomi seperti yang telah dibicarakan diatas. Dalam keadaan panic seperti perang atau krisis ekonomi, orang- orang cenderung menjadi rentan untuk melakukan tindakan- tindakan yang secara normative sosial sebenarnya dilarang. Hal itu terjadi karena mereka mengalami rasa ketidak puasan yang mendalam. Kendala struktural tidak secara otomatis melahirkan perilaku kolektif, tetapi kendala tersebut akan melahirkan perilaku kolektif apabila sudah memiliki makna yang signifikan dalam diri mereka. Dalam hal ini, keyakinan yang tergeneralisasi merupakan pemberian makna yang signifikan, adapun fungsi spesifik dari keyakinan yang tergeneralisasi:
1.      Memberi diagnosis tentang sebab terjadinya kendala strultural;
2.      Memberikan semacam respons atau rencana yang berguna untuk menghadapi dan mengatasi kendala- kendala struktural yang sedang dialami.
            Dalam situasi krisis moneter tahun 1998, panic belanja merupakan suatu respon dari kekhawatiran masyarakat akan ketidak sanggunapan pemerintah menyediakan Sembilan bahan pokok, sehingga timbulah perilaku kolektif.
            Kekondusifan struktural, kendala struktural, dan berkembangnya keyakinan umum memerlukan faktor- faktor pemicu yang akan menyebabkan timbulnya perilaku kolektif. Peran faktor- faktor tersebut seringkali dapat kita lihat dalam suatu proses revolusi sosial. Seperti serangan tiba- tiba yang dilakukan rakyat Prancis ke Kerajaan Prancis pada tahun 1789 yang memicu terjadinya Revolusi Prancis. Setiap kali suatu peristiwa yang memicu perilaku kolektif terjadi, terdapat kecenderungan untuk timbul proses mobilisasi partisipan atau mobilisasi masa yang dipacu oleh unsur utamanya yaitu konvensi. Proses rekuitmen anggota baruatau mobilisasi partisipan biasanya terjadi di antara anggota yang telah memiliki hubungan akrab sebelumnya, seperti teman, keluarga, ataupun sahabat. Proses ini terjadi biasanya dimulai dari tahap awal di tingkat akar rumput bukan dari pesan para pemimpin- pemimpin.
            Selanjutnya ada yang dinamakan dengan tahap operasi kontrol sosial yang membentengi tahap- tahap sebelumnya. Tahap ini memiliki unsur- unsur berupa teknik yang digunakan oleh para elit yang memimpin untuk menghentikan, melindungi, menghambat, atau mengarahkan akumulasi tahap tahap lain. Terdapat dua tipe operasi kontrol sosial, yaitu:
1.      Terdapat kontrol untuk mencapai minimalisasi kekondusifan dan kendala. Kontrol ini merupakan upaya untuk meredakan ketidak puasan terhadap program pemberdayaan.
2.      Kedua, memiliki tujuan untuk merepresi perilaku kolektif pada saat baru akan dimulai.
            Operasi kontrol sosial memiliki pengaruh penting terhadap kecepatanperilaku kolektif, dan juga menjadi instrumen yang digunakan dalam masyarakat untuk menjaga agar massa dapat berperilaku sesuai dengan norma yang diharapkan.
C.     Teori perilaku Psikologi Sosial terhadap Perilaku Kerumunan
            Kerumunan merupakan suatu perilaku kolektif yang banyak menjadi sorotan para ahli psikologi sosial. Kerumunan (crowd) adalah konsep yang menggambarkan semua jenis cara berkumpulnya orang- orang pada suatu tempat tertentu secara langsung (Mueller & Kendall, 2004). Seperti penonton musik rock, mob, rally, kerusuhan (rior), dan panic masa. Dalam kerumunan setiap orang akan dapat dekat andata satu dengan yang lain, sehingga mereka dapat saling memberikan pengaruhnya terhadap perilaku orang lain. Dalam proses terbentuknya perilaku kerumunan biasanya didahului oleh milling, yaitu proses komunikasi yang mengarah pada suatu pembentukan definiki situasi yang kemudian mengarah pada kemungkinan tindakan bersama (Stephan & Stephan, 1990).
            Dalam suatu kerumumam orang- orang cenderung mudah untuk dipengaruhi (suggestible), karena mereka cenderung kurang kritis dalam memandang situasi, hal ini dikemukakan oleh Le Bon. Selain itu dalam kerumunan orang- orang cenderung anonim atau merasa tidak beridentitas, dan mereka akan memiliki fokus yang bersifat sempit. Apabila ditinjau dari segi keaktifan, kerumunan dibagi menjadi dua yaitu kerumunan aktif dan kerumunan pasif. Adapun yang dimaksud dengan kerumunan pasif adalah kerumunan yang aksinay tidak terlalu berlebihan dan menarik perhatian. Kermumunan ini cenderung diam- diam saja, tenang dan tidak menagganggu orang lain. Kermumunan ini cenderung tidak memiliki tujuan apapun. Melainkan hanya berkumpul secara fisik pada tempat yang sama. Selain itu karena mereka dianggap tidak memiliki tujuan yang cukup ekstrim bukan berarti mereka tidak memiliki alasan pribasi untuk berada di tempat tersebut.
    Kerumunan aktif timbul secara spontan bersifat emosional, implusif dan merusak (destruktif). Misalnya pemberontakan. Tetapi untuk mengendalikan perilaku kerumunan dapat dikatakan adalah suatu hal yang sulit oleh karena itu diperlukan beberapa metode sebagai berikut:
1.      Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengendalikan perilaku kerumunan yaitu dengan melakukan isolasi atau pemecahan terhadap individu- individu yang terlibat sebagai pemacu perilaku kerumunan.
2.      Kemudian hal kedua yaitu dengan mengurangi perasaan anonimitas dan kekebalan dalam diri individu dengan memaksa mereka untuk berpikir tentang diri mereka sendiri dan berpikir secara rasional tentang konsekuensi tindakan yang mereka lakukan dalam kerumunan tersebut.
3.      Yang ketigas memotong pola komunikasi selama proses milling dengan membagi kerumunan menjadi kelompok- kelompok yang lebih kecil.
4.      Kemudian memindahkan pemimpin apabila itu dapat dilakukan.
5.       Dan yang terakhir yaitu mencoba mengganggu perhatian orang- orang dalam kerumunan dengan menciptakan interest yang baru, khususnya yang berasal dari model yang kemungkinan akan mendapat simpati dari para pelaku perilaku kolektif.


Adapun ragam perilaku kerumunan meliputi sebagai berikut:
1.         Audiens. Audiens adalah kerumunan penonton yang cenderung bersifat pasif. Contohnya seperti penonton sepak bola, kuliah umum, pengajian agama, dan penonton gedung yang sedang terbakar. Orang- orang dalam kerumunan ini dapat saling menularkan emosinya yang tidak dapat diramalkan namun masih dalam batas- batas wajar.
2.      Mob. Mob adalah kerumunan yang terfokus untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu. Dalam mob perilaku cenderung bersifat sangat emosional dan siap untuk melakukan tindakan yang agresif. (Mueller & Kendall, 2004).
3.      Riots (kerusuhan). Riots adalah mob dalam bentuk lebih destruktif atau dalam wilayah yang lebih luas (Landis, 1989).
            Terdapat tiga teori yang biasa dimanfaatkan oleh para ahli psikologi sosial untuk menjelaskan dinamika perilaku kerumunan diantaranya yaitu, teori penularan (Contagion Theory), teori konvergensi (Convergency Theory), dan teori pemunculan norma (Emergent Norm Theory) (Zanden, 1984; Stephan & Stephan, 1990).
1.      Teori penularan (Contagion Theory). Contagion Theory menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. mereka melakukan tindakan meniru/imitasi. Teori ini juga merupakan transformasi sementara dari gagasan individu untuk menghasilkan keutuhan. Bersifat emosional, memiliki kecenderungan pada model. Tokoh dari teori ini yang bernama Gustave Le Bon juga mengemukakan bahwa kerumunan mengasimilasi individu- inidividu sehingga menghasilkan kesatuan psikologis yang dapat mengubah emosi, pikiran dan tingkah laku normal seseorang. Oleh karena itu teori ini juga dapat disebut sebagai teori kesatuan psikologis. Dalam penularannya terdapat tiga mekanisme yang menyebabkan timbulnya perilaku kelompok yaitu anonimitas, penularan, dan kemudahan untuk dipengaruhi (Mueller & Kendall. 2004).
2.      Teori konvergen (Convergency Theory). Teori ini menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian dimana ketika mereka berbagi (convergence) pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan berkumpul bila mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi. Selain itu teori konvergensi ini berpendapat bahwa perilaku kolektif dalam kerumunan terjadi karena individu- individu yang masuk dalam kerumunan sudah memiliki kecenderungan untuk berperilaku kolektif. Menurut teori ini para ahli psikologi bertugas untuk mengedentifikasi kategori orang- orang yang kecenderungan berperilaku kolektif dalam kerumunan. Tokoh dalam teori ini adalah S. Milgram dan H. Toch.
3.      Emergent Norm Theory: menyatakan bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai/norma aparat yang bertugas, maka konflik horizontal akan terjadi. Ada dua proses dalam teori kemunculan yaitu
a.       Pengaruh norma sosial, yaitu gambaran yang menyimpang dari pandangan mayoritas.
b.      Pengaruh informasi sosial, orang yang melihat orang lain sebagai isyarat tingkah laku kolektif. Terutama pada mereka yang tidak yakin akan interpretasi sendiri pada situasi sosial atau bagaimana mereka harus bertindak.
            Ralph H. Turner dan Lewis Kllian (Zanden, 1984) yang mengemukakan teori ini berargumen bahwa sebenarnya terdapat perbedaan motif, sikap, dan perilaku yang mendasari anggot- anggota suatu kerumunan. Teori ini juga mengemukakan bahwa kerumunan terdiri atas aktivitas utama, aktivitas berhati- hati, pendukung pasif, pengikut oportunistik, orang yang kebetulan lewat, orang yang ingin tahu, orang yang tidak simpati, serta para pembangkang.
            Teori ini juga berpendapat bahwa dalam setiap perilaku kerumunan yang bersifat ambigu orang berusaha untuk mencari sinyal- sinyal menuju perilaku yang dapat diterima. Mereka berupaya mengembangkan norma perilaku baru yang bisa berbeda dari perilaku baku mereka apabila dalam keadaan sendiri, misalnya adalah dalam pengembangan norma bahwa pada situasi kacau orang boleh merusak atau membakar objek sasaran kerumunan.
            Selain dari tiga teori diatas terdapat satu lagi tambahan untuk teori untuk menjelaskan dinamika perilaku kolektif yaitu  Deindivuation Theory, teori ini menyatakan bahwa ketika orang dalam kerumunan, maka mereka akan ”menghilangkan” jati dirinya, dan kemudian menyatu ke dalam jiwa massa.  
            Dalam perilaku kerumunan sosial terdapat suatu proses yang dinamakan dengan deindividualitas yaitu menurut Philip G. Zimbardo (Zanden, 1984) adalah suatu proses keadaan dimana tingkat kesadaran diri seseorang mengalami penurunan, yang pada kesempatan berikutnya terjadi penurunan tingkat kontrol terhadap rasa malu dan hilangnya komitmen yang bersifat moral. Kemudian mereka kemungkinan dapat melakukan perilaku yang melanggar nilai- nilai moral masyarakat seperti mencuri, menjarah, agresi, merusak, dan tindakan vandalisme.

D.    Publik, Opini Publik, dan Propaganda

            Publik adalah sejumlah orang yang memiliki interest dan memiliki perbedaan tentang isu- isu bersama. Orang- orang dalam konteks public melakukan proses komunikasi secara relative tidak dengan memanfaatkan kontak kedekatan fisik, atau tidak melalui kontak tatap muka secara langsung, melainkan lewat media seperti majalah, televise, koran atau media massa yang lain. Serta kedudukan mereka tersebar secara geografis. Opini publik adalah opini (keyakinan dan sikap) yang dikemukakan oleh publik (warga biasa) kepada pengambil keputusan (Mueller & Kendall, 2004) tentang isu tertentu.

            Propaganda adalah usaha- usaha untuk mempengaruhi dan mengubah opini publik tentang suatu isu. Efektifitas propaganda sangat bergantung pada kemampuan seseorang atau kelompok yang terlibat dalam menyampaika pesannya kepada para audiens dan kemampuannya untuk memberi sudut pandang yang baru kepada audiens. 


DAFTAR PUSTAKA

Hanurawan Fattah, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2015)
Anonim. Bentuk-Bentuk Kelompok Sosial Teratur Dalam Masyarakat. https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=22&idmateri=205&mnu=Uraian2. Diakses pada 28 Maret 2017 pukul 22.05
Anonim. Pengertian dan Ciri Kelompok Sosial. http://ilmusos.weebly.com/sosiologi1.html. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 01.20.
Hendratno, Edie Toet. Kelompok Sosial dan Kehidupan Masyarakat. http://bem.law.ui.ac.id/fhuiguide/uploads/materi/kelompok-sosial.pptx. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 01. 20.
Anonim. Sport Tingka Laku Kolektif dan Perubahan Sosial. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/SPORT,TINGKAH LAKU%20KOLEKTIf%20DAN%20PERUBAHAN%20SOSIAL.pdf. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 01. 30.
Suryanto. Memahami Psikologi Massa dan Penanganannya. http://suryanto.blog.unair.ac.id/2008/12/03/memahami-psikologi-massa-dan-penanganannya/. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 02.00. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar