A. Pengertian
Perilaku Kolektif
Perilaku kolektif adalah berpikir
berperasaan, dan bertindak sekumpulan individu yang secara relative bersifat
spontan dan tidak terstruktur yang
berkembang dalam suatu kelompok atau populasi sebagai akibat dari saling
stimulasi antar individu. Perilaku kolektif ini juga tidak diatur oleh norma-
norma tertentu dan tidak dilembagakan. Bahkan, karena sering kali karakteristk perilaku
kolektif yang bersifat spontan dan tidak testruktur maka perilaku itu menjadi
melanggar norma- norma sosial yang sudah mapan (Mueller & Kendall, 2004). Demikian
pula, karena alasan- alasan etika, perilaku kolektif sulit untuk diteliti
secara objektif melalui penelitian eksperimen atau eksperimen lapangan (Landis,
1989).
B. Teori
Nilai Tambah terhadap Perilaku Kolektif
Neil Smelser (Stephan & Stephan,
1990) yang mengajukan teori nilai tambah (Value
added theory) bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku
kolektif. Dalam setiap proses terjadinya perilaku kolektif, setiap tahap
dipengaruhi tahap sebelumnya. Enam tahap itu adalah kekondusifan struktural,
kendala struktural, berkembang dan menyebarnya keyakinan yang
digeneralisasikan, faktor- faktor yang memicu, mobilitas partisipasi bagi suatu
gerakan, dan operasi kontrol sosial.
Kekondisifan struktural adalah
kondisi- kondisi sosial umum yang dapat menyebabkan timbulnya suatu perilaku
kolaktif. Contohnya yaitu pada saat terjadinya peristiwa panik belanja Sembilan
bahan pokok pada krisis moneter pada tahun 1998. Hal ini menyebabkan orang-
orang menjadi resah, cemas, dan panik terhadap jaminan ketersediaan sembilan
bahan pokok.
Kendala struktural biasanya terjadi
apabila bervariasi aspek dari suatu sistem sosial tidak berjalan secara
harmonis. Seperti terjadinya perang, kerusuhan, ataupun krisis ekonomi seperti
yang telah dibicarakan diatas. Dalam keadaan panic seperti perang atau krisis
ekonomi, orang- orang cenderung menjadi rentan untuk melakukan tindakan-
tindakan yang secara normative sosial sebenarnya dilarang. Hal itu terjadi
karena mereka mengalami rasa ketidak puasan yang mendalam. Kendala struktural
tidak secara otomatis melahirkan perilaku kolektif, tetapi kendala tersebut
akan melahirkan perilaku kolektif apabila sudah memiliki makna yang signifikan
dalam diri mereka. Dalam hal ini, keyakinan yang tergeneralisasi merupakan
pemberian makna yang signifikan, adapun fungsi spesifik dari keyakinan yang
tergeneralisasi:
1. Memberi
diagnosis tentang sebab terjadinya kendala strultural;
2. Memberikan
semacam respons atau rencana yang berguna untuk menghadapi dan mengatasi
kendala- kendala struktural yang sedang dialami.
Dalam situasi krisis moneter tahun
1998, panic belanja merupakan suatu respon dari kekhawatiran masyarakat akan
ketidak sanggunapan pemerintah menyediakan Sembilan bahan pokok, sehingga
timbulah perilaku kolektif.
Kekondusifan struktural, kendala
struktural, dan berkembangnya keyakinan umum memerlukan faktor- faktor pemicu
yang akan menyebabkan timbulnya perilaku kolektif. Peran faktor- faktor
tersebut seringkali dapat kita lihat dalam suatu proses revolusi sosial.
Seperti serangan tiba- tiba yang dilakukan rakyat Prancis ke Kerajaan Prancis
pada tahun 1789 yang memicu terjadinya Revolusi Prancis. Setiap kali suatu
peristiwa yang memicu perilaku kolektif terjadi, terdapat kecenderungan untuk
timbul proses mobilisasi partisipan atau mobilisasi masa yang dipacu oleh unsur
utamanya yaitu konvensi. Proses rekuitmen anggota baruatau mobilisasi
partisipan biasanya terjadi di antara anggota yang telah memiliki hubungan
akrab sebelumnya, seperti teman, keluarga, ataupun sahabat. Proses ini terjadi
biasanya dimulai dari tahap awal di tingkat akar rumput bukan dari pesan para
pemimpin- pemimpin.
Selanjutnya ada yang dinamakan
dengan tahap operasi kontrol sosial yang membentengi tahap- tahap sebelumnya.
Tahap ini memiliki unsur- unsur berupa teknik yang digunakan oleh para elit
yang memimpin untuk menghentikan, melindungi, menghambat, atau mengarahkan
akumulasi tahap tahap lain. Terdapat dua tipe operasi kontrol sosial, yaitu:
1. Terdapat
kontrol untuk mencapai minimalisasi kekondusifan dan kendala. Kontrol ini
merupakan upaya untuk meredakan ketidak puasan terhadap program pemberdayaan.
2. Kedua,
memiliki tujuan untuk merepresi perilaku kolektif pada saat baru akan dimulai.
Operasi kontrol sosial memiliki
pengaruh penting terhadap kecepatanperilaku kolektif, dan juga menjadi
instrumen yang digunakan dalam masyarakat untuk menjaga agar massa dapat
berperilaku sesuai dengan norma yang diharapkan.
C. Teori
perilaku Psikologi Sosial terhadap Perilaku Kerumunan
Kerumunan merupakan suatu perilaku
kolektif yang banyak menjadi sorotan para ahli psikologi sosial. Kerumunan (crowd) adalah konsep yang menggambarkan
semua jenis cara berkumpulnya orang- orang pada suatu tempat tertentu secara
langsung (Mueller & Kendall, 2004). Seperti penonton musik rock, mob,
rally, kerusuhan (rior), dan panic
masa. Dalam kerumunan setiap orang akan dapat dekat andata satu dengan yang
lain, sehingga mereka dapat saling memberikan pengaruhnya terhadap perilaku orang
lain. Dalam proses terbentuknya perilaku kerumunan biasanya didahului oleh milling, yaitu proses komunikasi yang
mengarah pada suatu pembentukan definiki situasi yang kemudian mengarah pada
kemungkinan tindakan bersama (Stephan & Stephan, 1990).
Dalam suatu kerumumam orang- orang
cenderung mudah untuk dipengaruhi (suggestible),
karena mereka cenderung kurang kritis dalam memandang situasi, hal ini
dikemukakan oleh Le Bon. Selain itu dalam kerumunan orang- orang cenderung
anonim atau merasa tidak beridentitas, dan mereka akan memiliki fokus yang
bersifat sempit. Apabila ditinjau dari segi keaktifan, kerumunan dibagi menjadi
dua yaitu kerumunan aktif dan kerumunan pasif. Adapun yang dimaksud dengan
kerumunan pasif adalah kerumunan yang aksinay tidak terlalu berlebihan dan
menarik perhatian. Kermumunan ini cenderung diam- diam saja, tenang dan tidak
menagganggu orang lain. Kermumunan ini cenderung tidak memiliki tujuan apapun.
Melainkan hanya berkumpul secara fisik pada tempat yang sama. Selain itu karena
mereka dianggap tidak memiliki tujuan yang cukup ekstrim bukan berarti mereka
tidak memiliki alasan pribasi untuk berada di tempat tersebut.
Kerumunan aktif timbul secara spontan bersifat
emosional, implusif dan merusak (destruktif). Misalnya pemberontakan. Tetapi
untuk mengendalikan perilaku kerumunan dapat dikatakan adalah suatu hal yang
sulit oleh karena itu diperlukan beberapa metode sebagai berikut:
1.
Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengendalikan perilaku
kerumunan yaitu dengan melakukan isolasi atau pemecahan terhadap individu-
individu yang terlibat sebagai pemacu perilaku kerumunan.
2.
Kemudian hal kedua yaitu dengan mengurangi perasaan anonimitas dan
kekebalan dalam diri individu dengan memaksa mereka untuk berpikir tentang diri
mereka sendiri dan berpikir secara rasional tentang konsekuensi tindakan yang
mereka lakukan dalam kerumunan tersebut.
3.
Yang ketigas memotong pola komunikasi selama proses milling dengan membagi kerumunan menjadi
kelompok- kelompok yang lebih kecil.
4.
Kemudian memindahkan pemimpin apabila itu dapat dilakukan.
5.
Dan yang terakhir yaitu
mencoba mengganggu perhatian orang- orang dalam kerumunan dengan menciptakan interest yang baru, khususnya yang
berasal dari model yang kemungkinan akan mendapat simpati dari para pelaku
perilaku kolektif.
Adapun
ragam perilaku kerumunan meliputi sebagai berikut:
1. Audiens.
Audiens adalah kerumunan penonton yang cenderung bersifat pasif. Contohnya
seperti penonton sepak bola, kuliah umum, pengajian agama, dan penonton gedung
yang sedang terbakar. Orang- orang dalam kerumunan ini dapat saling menularkan
emosinya yang tidak dapat diramalkan namun masih dalam batas- batas wajar.
2. Mob.
Mob adalah kerumunan yang terfokus untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu.
Dalam mob perilaku cenderung bersifat sangat emosional dan siap untuk melakukan
tindakan yang agresif. (Mueller & Kendall, 2004).
3. Riots
(kerusuhan). Riots adalah mob dalam bentuk lebih destruktif atau dalam wilayah
yang lebih luas (Landis, 1989).
Terdapat tiga teori yang biasa
dimanfaatkan oleh para ahli psikologi sosial untuk menjelaskan dinamika
perilaku kerumunan diantaranya yaitu, teori penularan (Contagion Theory), teori konvergensi (Convergency Theory), dan teori pemunculan norma (Emergent Norm Theory) (Zanden, 1984;
Stephan & Stephan, 1990).
1. Teori
penularan (Contagion Theory). Contagion Theory menyatakan bahwa orang akan mudah
tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. mereka melakukan
tindakan meniru/imitasi. Teori ini juga merupakan transformasi sementara dari gagasan individu untuk menghasilkan keutuhan. Bersifat
emosional, memiliki kecenderungan pada model. Tokoh dari teori ini yang bernama
Gustave Le Bon juga mengemukakan bahwa kerumunan mengasimilasi individu-
inidividu sehingga menghasilkan kesatuan psikologis yang dapat mengubah emosi,
pikiran dan tingkah laku normal seseorang. Oleh karena itu teori ini juga dapat
disebut sebagai teori kesatuan psikologis. Dalam penularannya terdapat tiga
mekanisme yang menyebabkan timbulnya perilaku kelompok yaitu anonimitas,
penularan, dan kemudahan untuk dipengaruhi (Mueller & Kendall. 2004).
2. Teori konvergen (Convergency
Theory). Teori ini menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu
kejadian dimana ketika mereka berbagi (convergence)
pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan berkumpul bila
mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi.
Selain itu teori konvergensi ini berpendapat bahwa perilaku kolektif dalam
kerumunan terjadi karena individu- individu yang masuk dalam kerumunan sudah
memiliki kecenderungan untuk berperilaku kolektif. Menurut teori ini para ahli
psikologi bertugas untuk mengedentifikasi kategori orang- orang yang
kecenderungan berperilaku kolektif dalam kerumunan. Tokoh dalam teori ini
adalah S. Milgram dan H. Toch.
3. Emergent Norm Theory: menyatakan
bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada
norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai
dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai/norma aparat yang bertugas,
maka konflik horizontal akan terjadi. Ada dua proses dalam teori kemunculan
yaitu
a. Pengaruh
norma sosial, yaitu gambaran yang menyimpang dari pandangan mayoritas.
b. Pengaruh
informasi sosial, orang yang melihat orang lain sebagai isyarat tingkah laku
kolektif. Terutama pada mereka yang tidak yakin akan interpretasi sendiri pada
situasi sosial atau bagaimana mereka harus bertindak.
Ralph H. Turner dan Lewis Kllian
(Zanden, 1984) yang mengemukakan teori ini berargumen bahwa sebenarnya terdapat
perbedaan motif, sikap, dan perilaku yang mendasari anggot- anggota suatu
kerumunan. Teori ini juga mengemukakan bahwa kerumunan terdiri atas aktivitas
utama, aktivitas berhati- hati, pendukung pasif, pengikut oportunistik, orang
yang kebetulan lewat, orang yang ingin tahu, orang yang tidak simpati, serta
para pembangkang.
Teori ini juga berpendapat bahwa
dalam setiap perilaku kerumunan yang bersifat ambigu orang berusaha untuk
mencari sinyal- sinyal menuju perilaku yang dapat diterima. Mereka berupaya
mengembangkan norma perilaku baru yang bisa berbeda dari perilaku baku mereka
apabila dalam keadaan sendiri, misalnya adalah dalam pengembangan norma bahwa
pada situasi kacau orang boleh merusak atau membakar objek sasaran kerumunan.
Selain dari tiga teori diatas
terdapat satu lagi tambahan untuk teori untuk menjelaskan dinamika perilaku
kolektif yaitu Deindivuation Theory, teori ini menyatakan bahwa ketika orang dalam
kerumunan, maka mereka akan ”menghilangkan” jati dirinya, dan kemudian menyatu
ke dalam jiwa massa.
Dalam perilaku kerumunan sosial
terdapat suatu proses yang dinamakan dengan deindividualitas yaitu menurut
Philip G. Zimbardo (Zanden, 1984) adalah suatu proses keadaan dimana tingkat
kesadaran diri seseorang mengalami penurunan, yang pada kesempatan berikutnya
terjadi penurunan tingkat kontrol terhadap rasa malu dan hilangnya komitmen
yang bersifat moral. Kemudian mereka kemungkinan dapat melakukan perilaku yang
melanggar nilai- nilai moral masyarakat seperti mencuri, menjarah, agresi,
merusak, dan tindakan vandalisme.
D. Publik,
Opini Publik, dan Propaganda
Publik adalah sejumlah orang yang
memiliki interest dan memiliki
perbedaan tentang isu- isu bersama. Orang- orang dalam konteks public melakukan
proses komunikasi secara relative tidak dengan memanfaatkan kontak kedekatan
fisik, atau tidak melalui kontak tatap muka secara langsung, melainkan lewat
media seperti majalah, televise, koran atau media massa yang lain. Serta
kedudukan mereka tersebar secara geografis. Opini publik adalah opini
(keyakinan dan sikap) yang dikemukakan oleh publik (warga biasa) kepada
pengambil keputusan (Mueller & Kendall, 2004) tentang isu tertentu.
Propaganda adalah usaha- usaha untuk
mempengaruhi dan mengubah opini publik tentang suatu isu. Efektifitas
propaganda sangat bergantung pada kemampuan seseorang atau kelompok yang
terlibat dalam menyampaika pesannya kepada para audiens dan kemampuannya untuk memberi
sudut pandang yang baru kepada audiens.
DAFTAR PUSTAKA
Hanurawan Fattah, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, (Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya, 2015)
Anonim. Bentuk-Bentuk Kelompok Sosial Teratur Dalam Masyarakat. https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=22&idmateri=205&mnu=Uraian2. Diakses pada 28 Maret 2017 pukul 22.05
Anonim. Pengertian dan Ciri Kelompok Sosial. http://ilmusos.weebly.com/sosiologi1.html. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 01.20.
Hendratno, Edie Toet. Kelompok Sosial dan Kehidupan Masyarakat. http://bem.law.ui.ac.id/fhuiguide/uploads/materi/kelompok-sosial.pptx. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 01. 20.
Anonim. Sport Tingka Laku Kolektif dan Perubahan
Sosial. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/SPORT,TINGKAH
LAKU%20KOLEKTIf%20DAN%20PERUBAHAN%20SOSIAL.pdf. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul
01. 30.
Suryanto.
Memahami Psikologi Massa dan
Penanganannya. http://suryanto.blog.unair.ac.id/2008/12/03/memahami-psikologi-massa-dan-penanganannya/. Diakses pada 29 Maret 2017 pukul 02.00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar