Rabu, 15 Maret 2017

Pedagogik Kritis dalam Teknonologi Pendidikan I

PEDAGOGIK KRITIS DALAM TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Oleh: Edi Subkhan

Dalam Buku Sumber: Pedagogik Krtitis, oleh Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Sc.Ed., Jimmy Ph.Paat, Lody Paat

A.    Teknologi Pendidikan dan Pedagogik Kritis
            Dunia pendidikan sekarang ini relative tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi berupa media dalam menunjang proses dan pencapaian tujuan pembelajran dan pendidikan itu sendiri. Dimulai dari pembelajaran yang sederhana, sampai pembelajaran yang membutuhkan media seperti internet, laptop, OHP, atau yang paling modern sekarang ialah infocus.
            Namun mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa sekarang serdapat ilmu kajian yang fokus pada bidang teknologi untuk pendidikan, yakni bidang kajian Teknologi Pendidikan. Memang pada dasarnya teknologi pendidikan bukanlah suatu disiplin keilmuan seperti psikologi, sosiologi, biologi, atau bahkan matematika dalam lingkungan akademik. Justru lebih tepat jika teknologi pendidikan disebut sebagai “kajian praksis” teknologi pendidikan saja. Yakti sebuah bidang yang secara khusus memfokuskan pada kajian mengenai teknologi dalam konteks dan lingkup pendidikan.
            Pada kesempatan ini saya akan membahas pendapat Edi Subkhan dalam buku pedagogic kritis oleh Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed., beliau menyatakan bahwa beliau memiliki pandangan yang relative berbeda dengan dengan para sarjana teknologi pendidikan di Indonesia pada umumnya. Para sarjana teknologi pendidikan atau selanjutnya kita sebut dengan mereka relative menganut definisi teknologi pendidikan yang telah ditentukan oleh Association for Educational Communication and Technologi (AECT).
            Pada 2004 AECT membuat definisi teknologi pendidikan yang baru sebagai revisi atas definisi teknologi pendidikan dari yang sebelumnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Januszewski dan Molenda (2008:1) bahwa:
Educational Technologi is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources
            Sedangkan pada tahun 1994 oleh AETC teknologi pendidikan masih disebut sebagai teknologi pengajaran (instructional technology), yang dalam bahsa Indonesia sering diterjemahkan sebagai teknologi pembelajaran. Menurut Edi Subkhan kata “instructional” secara sematik lebih tepat diartikan sebagai “pengajaran” karena intruksional itu sendiri dapat diartikan sebagai perintah atau intruksi yang maknanya lebih dekat dengan istilah pengajaran bukan pembelajaran.
            Hal yang membedakan pandangan Edi Subkhan dengan sarjana teknologi pendidikan yang lain adalah bahwa Edi Subkhan menagnggap bahwa teknologi pendidikan merupakan “kajian bidang praksis” dalam memfasilitasi pembelajaran, jadi tidak janya sekedar kajian dan praktis etis saja. Praksis disini dapat lebih dikembangkan lagi ruang lingkupnya menjadi pertautan anatara teori kajian dan aksi yang memiliki implikasi paradigmatic lebih luas.
            Membangun teknologi pendidikan sebagai sebuah ranah kajian dan praksis adalah mempersatukan antara teori dan praksis implementasi teknologi pendidikan. Karena sebuah teori atau kajian teknologi pendidikan tidak dapat lepas dari konteks sosio kultural di kehidupan sekitar termasuk praktiknya yang cenderung berangkat dari realita dan masalah- masalah yang timbul dengan konteks sosio- kultural.
            Sebagaimana definisi teknologi pendidikan oleh AECT tahun 2004, upaya Edi Subkhan memandang dan memaknai teknologi pendidikan dengan cara yang berbeda dari perspektif paradigm teori pedagogic kritis. Pedagogik kritis sering juga disebut dengan pendidikan kritis, pendidikan pembebasan (Freire, 1970), pedagogic radikal (Giroux, 1997; McLaren, 1995), pendidikan popular (Fakih, et al.,2000) dan pedagogic transformative (Tilaar, 2002). Pedagogik kritis melihat bahwa praksis pendidikan tidak dapat terlapaskan dari konteks sosio- kultural, dan kemudian bersikap kritis terhadap fenomena sosio- kultural tersebut. Praksis pendidikan dan kodisi sosio- kultural masyarakat dalam perspektif pedagogic kritis selalu dipandang menyimpan bentuk- bentuk diskriminasi, ketidakadilan, bahkan penyimpangan.
            Perspektif paradigm tersebut secara teoritis antara lain dilandasi oleh beberapa pandangan teoritis. Seperti yang dikatakan oleh Jurgen Habermas (dalam Hardiman, 2009 [1991]) yang telah membangun argumentasinilmu kritis yang bertujuan untuk pembebasan. Dengan kata lain pedagogic kritis tidaklah hanya satu wajah.
            Dengan perangkat teori- teori kritis itulah, pedagogic kritis mengkaji fenomena sosio-kultural yang melingkupi praksis pendidikan secara kritis. Kekuasaan, hegemoni, ideology, dualog, dan transformasi menjadikata kunci dalam analysis pedagogic kritis. Michael Apple (2004) misalnya, beliau telah menunjukkan kepentingan ideologis yang bersembunyi di dalam kurikulum pendidikan, dan juga ketidakadilan dalam relasi kelas sosial gender. Setelah pembahasan telah sampai disini, pasti Anda berpikir bahwa pedagogic kritis hanya sibuk mengkritisi saja. Jika Anda berpikir seperti itu, maka Anda harus mengubah pola pikir Anda karena sesungguhnya pedagogic kritis tidak seperti itu, melainkan pedagogic kritis juga tetap memiliki tujuan yang sama yaitu membangun tatanan sosial yang lebih baik. Hanya saja yang ingin dibangun adalah masyarakat yang memiliki kesadaran kritis, bukan masyarakat berbudaya bisu yang hanya bisa mengikuti arus saja.

            Tetapi pada akhir pembahasan ini sangat disayangkan bahwa faktanya beberapa ahli teknologi pendidikan dalam lingkaran AECTyang menggunakan perangkat paradigma teori kritis, dan pedagogic kritis tidaklah banyak. Sehingga tulisan- tulisan mengenai bahan ini masih sangat sedikit. Mungkin karena itu pula perspektif paradigm kritis tidak banyak berkembang di lingkaran ahli teknologi pendidikan AECT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar